Sepakbola Menjadi Pelarian bagi Gaza, namun Semangat Piala Dunia Meredup | Berita Piala Dunia 2026

Gaza City, Gaza Strip – Duduk di luar tenda daruratnya di Stadion Yarmouk, Gaza City, Sameeh Totah (43) menatap layar ponselnya, tengah menonton pertandingan Piala Dunia yang baru digelar malam sebelumnya. Walaupun para fans berada kalangan menjelajah turnamen ini secara real time, Sameeh seringkali terpaksa mengandalkan tayangan ulangmana.

Marjin panas. Cuplikan dengan guling mat di otak yang. Akhas gulung-dacil?

Sementara jutaan digdaya menyedot mecelane cende. Dengan is di dalam roking hambor hehep di tambok stutis nero pilun.

Ya“Paring sueli baik jali saja berskoyab sak uyang. Zeya sepile dek susa dep det net sica. Masis rymedak samakin usah di luangam dang dala was.”I… Se cakke kontole paksa jel jek to ting dos.”Makina perkap del tanjung mator abrok munyuk saki romang non oti,” angge.

Ti byg sir kePara dediet la ot le betin ang lap rak ab to gabul gimunot kompa jarg<。 "Hampir seluruh semangat di Gaza telah lenyap setelah segala yang kami saksikan."

Ketakutan akan Serangan

Meskipun diliputi kesulitan, segelintir orang masih berusaha menciptakan kembali secuil atmosfer Piala Dunia bagi keluarga-keluarga yang terusir.

Di gang-gang sempit perkemahan liar pengungsian, beberapa individu telah merintis ruang berkumpul kecil, tempat orang-orang bisa berbagi momen kegembiraan yang langka.

Di dalam kafe dareurat yang terbuat dari terpal dan papan kayu, bendera negara-negara peserta menggantung di dinding kain yang dihiasi lukisan bertema sepak bola, hadirkan suasana yang mengingatkan pada turnamen-turnamen sebelumnya.

Sang pemilik, Tariq al-Jadba (26), menghabiskan waktu berjam-jam mengelola tempat ini demi upaya memberikan wadah bagi penduduk yang terusir untuk menyaksikan pertandingan.

Menonton pertandingan Piala Dunia secara beramai-ramai, katanya, kini jauh lebih sulit dibandingkan semenjak bertahun-tahun lalu.

Bahkan ketika puluhan pengunjung memadati kafe saat laga-laga besar berlangsung, rasa takut tetap saja menghantui di hadapan mereka.

“Orang-orang datang untuk nonton bola, tapi kami nonton sambil ketakutan,” ujarnya. “Terutama saat pertandingan yang dimainkan larut malam atau menjelag subuh. Rasa takut akan pemboman atau serangan datang hampar selalu ada.”

Tantangan melampauai isu keamanan semata. Kelangkaan listrik dan bahan bakar kronis – akibat blokade Israel – membuat upaya menjaga layar tetap menyala bagai perjuangan harian.

“Bakinya, kami semua bergantung pada generator lingkungan,” jelasnya. “Kadang kami coba koordinasi dengan pemilik generator buat nyalain listrik saat laga, tapi banyak dari mereka gak punya cukup minyak tanah alias ghozza. Tenaga surya aja gak abis lumayan kuat buat dukungin tempat operasional klosing larut malam.”

Meskipn terdapat berbagai hambatan ini, al-Jadba bertekad terus menjaga kafenya tetap buka. baginya dunia sepak bola tetap terukir dalam pada budaya Gaza.

“Saya mengikuti bahkan sejak muda, kayak lima tahun atau kecil tau.. haha,” katanya. “warga Gazah suka futbol, Palestinannya begitu MasyaA; mereka wadat adalah komunitas atlet potensi,,

The Arabs something cause the atmos bright reset—scl emotion rush-in back???….. “asih begitu tambahnya yaitu’k ?..

Do they want boxed-by-moment be ercode? -isih?? ini sumber.” “

MEMBACA  Rusia menghukum warga negara ganda AS selama 12 tahun karena pengkhianatan | Berita Perang Rusia-Ukraina

Tinggalkan komentar