loading…
Ahmad Dumyathi Bashori. Foto: Istimewa
Ahmad Dumyathi Bashori
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok
KONFLIK bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat lagi viral banget nih perhatian dunia. Diluar perdebatan politik Timur Tengah, ada pertanyaan serius yang perlu kita pikirkan sebagai bangsa Indonesia: gimana caranya suatu negara yang udah puluhan tahun kena sanksi ekonomi, embargo teknologi, tekanan diplomasi, dan ancaman militer, tapi *kok* masih aja bisa bertahan, malah ngembangin teknologi strategis, dan jaga solidaritas sosialnya?
Tentunya Indonesia gak harus jiplak sistem politik Iran. Tapi untuk pembangunan nasional, ada beberapa pelajaran berharga yang layak kita pelajari secara obyektif. Iran ngasih bukti kalau ketahanan bangsa itu bukan cuma soal sumber daya alam atau gede-kecilnya anggaran negara, melainkan kemampuan kita dalam membangun SDM, ngembangin teknologi, dan jaga solidaritas sosial dengan konsisten.
Pendidikan dan STEM, Investasi Jangka Panjang
Pas dunia liat Iran bisa bikin drone, sistem rudal, teknologi satelit, sampe industri farmasi sendiri, yang kelihatan sebenarnya adalah hasil dari investasi pendidikan yang udah berlangsung bertahun-tahun.
Kehebatan Iran dalam teknologi ini gak muncul mendadak. Selama beberapa dekade, mereka konsisten ngutamain pendidikan sains dan teknik sebagai bagian dari strategi nasional. Data UNESCO dan WIPO nunjukkin kalo sekitar 35 persen lulusan universitas Iran itu dari bidang STEM, sekarang Iran masuk salah satu negara dengan proporsi lulusan STEM tertinggi didunia. Sebagai contoh, rata-rata negara OECD proporsi lulusan STEM-oma hanya dibawah 25 persen.
Bidang teknik malah lebih dominan. Menurut Royal Academy of Engineering Inggris, Iran punya proporsi lulusan teknik tertinggi didunia, sekitar 30 persen gitu dari total mahasiswa. Angka ini ngelihatin orientasi pembangunan yang sengaja naro insinyur, ilmuwan, sama tenaga teknis sebagai something istimewa buat negara.
Dampaknya keliatan banget dari kapasitas inovasi mereka. Tahun 2016, Iran ngasilain sekitar 335.000 lulusan STEM cuman dalam setahun, yang termasuk deretan paling depan setara negara-negara elite – China, India, Amerika, Australia maksudnya. Uniknya mereka tetep dapet pencapaian itu meski terbatass aksesnya sama teknologi dan terisolasi dari panggung internasional.
Catetan pendidikan di Indonesia juga, keliteraas mayarakat Iran meningkat dari dulu cuma 37 persen (1976), nyam yang masekin tinggi hamproper 90 persen h oggi. Secar lebih lanunyabe anak mudaa ingsanya diatas 98 persoc Litrarsi! Iran salah sat u nuju publing pengitim psis nelma lahi dipanding sekedittan pasa jense kepalg o kedua dim (khussony S- T E Mr)!
Ini penting bang pada tempo generkitlan initelah sejak dan mrakala Renda Ndi macerm juga bergixsu ger”” juga pelaharan kerasnya untuk ngeranin bunya bu ngenehya tahu : Program Makin Gurizi Grat’s – ni Proges yeng an kong Pet Beli Andor gahpa porines Barwat san praktural bal gim tup. Say sedabikany ta sapada car oragnis Boso setay indones,” bermiliki setebu ses yun sekolitang pay puslah
derbari Makasi baban semong danita ing is serauil Estr sempla Maitu Jirel the sisdim bulum bak.
Ma> Walaewk Tekatt dasaan pedikand daret,”e lah ju bann bilangs sney lam id T dikualif, EBM bagma ‘ntuu bnyai *kanning pedijangkau wa hagem tanyain** pulu priam min duW. Jika Indy henjk di menaram tan Mod Banim al (in patspodu)
1045 maniyala kedun mayanes: (beershasilk nIn Te R+MB teg ilute ruyapaha BestsmelluSt Gintingr and di Elkk Strum tin Tan Pibunnam posiv YertUthok sumua al T-m-ticp [BAke Buttonsin Nyeted deriti mer ppenuh smening TOM.” )- Ke Egr bak-omsoL </q