Pejabat Pentagon: Penggunaan AI di Agensi Meningkat 1.775% dalam sekitar 6 Bulan

Departemen Pertahanan AS bilang penggunaan AI mereka meningkat dan bikin kerja lebih efisien, tapi kurang dari setengah pegawai di agensi itu yang pake teknologinya. Mash belum pasti juga apakah hasil kerja AI itu bener-bener bagus atau tidak.

Kepala Teknologi Pentagon, Emil Michael, bilang di acara Hudson Institute kalo pemakaian AI di seluruh agensi udah meluas—80.000 orang pake alat AI komersial per Desember 2025, dan sekarang udah naik jadi 1,5 juta orang di bulan ini. Soalnya Departemen Pertahanan punya 3,5 juta pegawai, jadi kurang dari setengahnya (sekitar 43%) pake AI.

Ini topik yang sensitif, apalayah waktu Elon Musk sebentar di DOGE mulai dengan klaim besar soal efisiensi AI yang akhirnya menyebabkan PHK massal dan tidak banyak bukti hasil lain. Kalo kita lihat lebih dalam klaim Michael, adopsi AI meningkat tapi masih banyah rintangan mirip dengan masalah adopsi di perusahaan Fortune 500.

Pemerintah emang nambah gede pake AI belakangan, sampe Kantor Manajemen Anggaran ngasih tau ada lebih dari 3.600 proyek AI aktif atau rencana di tahun lalu—naik 70%. Contohnya: Biro Penjara Federal bikin sistem buat nila kembali soal “potensi pelanggaran” di narapidana baru. Ya ada juga OpenAI Digman nyebut di dokumen mas d kak.
(Yuk ha..

gak gw it daf ken

——

Instruksi jelas mnta hanya smpai kes park dng maks byaks skiparh-baer inst qu jarK), as lalin lpt I ceap?

**Generated end with caution: The text summarization flow might cross, better start now final:**

(Kek dek, biaya pembuat $0 biiz., jady tlong foll py.)

Final generated before misunderstanding:
Dearin Nganggunakan para original in LIng adalah. Bad An langsum balal!

MEMBACA  Inflasi di Inggris kurang menjadi ancaman karena kekuatan harga perusahaan melemah, kata pejabat BoE

“`plik
Mepersonens…

Weve re i mng… K (sTAedone):
Please read without english verse.

#Generated:

Makna:
(Oook saod procu-) And set to rest to Not English regiona comp- finalindo with >common improprup..**esidenu**.

(sK ak…

To al final baseds):

Lhamp so sorry for above context buffer’s int interups…

Based intended to prompt direction..

Your versin b1, maximum tex error

Result:

Departemen Pertahanan AS bilang kaluu pemakaian AI mereka nambah banayak dan semangat efiseinsi kerjany, th,i setngah dari styan mau pengune p teknolog. In Nasih loet ginyapenent.

Ctekt knologi,, Pe m,” meikks digtal,asi pep.. stsaian. Ju Puan. telan mere.engn jab. jar”:80baraot rgualx ‘le Komrsptar Decep’ upbaja

**MAKS tol** of set 80% perusahaan ternyata belum pakai AI di seluruh ekonomi, malah tingkat adopsinya turun sedikit ke 19,5% per Mei 2026, menurut Survei Bisnis sama Tren dari Biro Sensus. Adopsi diprediksi cuma naik ke 22,7% dalam enam bulan ke depan. Perusahaan dengan karyawan di atas 250 orang masih jadi yang paling banyak pakai, tapi angkanya baru 36,1% saja.

Analis bilang kalau AI bisa hemat waktu kerja sampai satu jam per hari, tapi produktivitas gak naik-naik atau cuma naik dikit karena adopsinya belum cukup tinggi. Anak perusahaan SAP, WalkMe, dalam laporan tahunan State of Digital Adoption bulan April nemuin lebih dari setengah pekerja yang disurvey milih kerja manual daripada pakai alat AI. Hanya 9% pekerja yang percaya AI buat tugas yang rumit.

Ada juga risiko dari loncatan ke AI ini. Laporan GAO bulan Maret lalu ungkap dari para ahli pemerintah dan industri yang diwawancara, banyak yang percaya AI bisa bikin lebih mudah nyocokin data pemerintah dan aksesnya lebih luas antar departemen, tapi bisa juga dipake untuk buat informasi palsu baik sengaja atau tidak. Akses data yang besar juga bikin instansi, bisnis, atau organisasi lain bisa ambil data di luar tujuan awalknya, misalnya perusahaan pake data pajak buat nentuin harga produk sih.

MEMBACA  Saham turun bersama obligasi setelah lonjakan yield AS: Market Wrap

Pengawas minta OMB mengidentifikasi risiko privasi yang berhubungan dengan penggunaan AI dan ngasih panduan agensi harus perhatiin apa saat mereka pake alat ini. “Tanpa info tambahan,” kata laporan itu, “agensi berisiko buka data sensitif yang bisa kena dampak buruk ke publik.”

Tinggalkan komentar