(G7 Tahun Ini Kedatangan Tamu Makan Siang Spesial: Sam Altman, Demis Hassabis, dan Dario Amodei)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bilang ke Presiden Donald Trump tahun lalu kalo dia adalah “teman terbesar yang pernah Israel punya di Gedung Putih.”

Sekarang, waktu Trump coba menyelesaikan kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran, dia malah ngomongin Netanyahu dengan nada yang gak pernah dipake pemimpin Amerika lainnya di depan umum.

Dia ngaku pantes dapet kredit atas keberadaan Israel — “tanpa saya, gak bakal ada Israel” — dan ngomong kasar tentang penilaian Netanyahu di wawancara. Dia bahkan bilang Netanyahu itu “gila.”

Netanyahu jadi perdana menteri selama empat presiden AS, dan dia pernah bikin frustasi semua presiden itu di beberapa momen. Tapi gak ada yang ngomong sejujur Trump yang memulai konflik bareng Netanyahu.

Ketegangan ini datang pas Trump ngritik serangan Israel akhir-akhir ini di Lebanon, yang bisa ngerusak negosiasi antara Washington ddan Tehran. Trump lagi dorong kesepakatan karena dia hadapi tekanan politik di dalam negeri, di mana perang ini gak populer dan bikin harga bensin naik.

“Kalo Netanyahu menghalangi sesuatu yang Trump sangat pengen, yaitu keluar dari perang ini, dia siap pake kekuatan yang dia punya,” kata Aaron David Miller, yg pernah jadi penasihat isu Timur Tengah untuk pemerintahan Demokrat dan Republik selama dua dekade.

Sebuah persetujuan dijadwalkan ditandatangani hari Jumat di resor Burgenstock dekat kota Luzern. Bicara hari Selasa di KTT G7 tahunan di Prancis, Trump bilang dia udah bilang ke Netanyahu kalo dia gak puas sama langkah terbarunya.

“Tanpa AS, gak bakal ada Israel. Tanpa saya, gak bakal ada Israel karena gak ada presiden lain yang mau lakuin apa yang udah saya lakuin,” kata Trump. “Saya dulu punya hubungan baik sama Bibi. Sekarang Bibi harus lebih bertanggung jawab soal Lebanon.”

MEMBACA  Israel mengungkapkan rencana untuk mengendalikan sepenuhnya Gaza setelah perang

Udah lama ada konsesus bipartisan soal dukung Israel di Washington, tapi itu mulai retak belakangan ini. Kaum liberal semakin marah sama perlakuan Israel terhadap warga Palestina, khususnya selama perang di Gaza, sementara konservatif mulai pertanyakan pentingnya dukungan Amerika jangka panjang untuk Israel. Ada kekhawatiran soal antisemitisme di pihak kiri dan kanan.

Komentar terbaru Trump dapet kritikan langsung dari kelompok-kelompok kiri.

“Dia bingkai-in keberadaan Israel sebagai sesuatu yang tergantung sama dia,” kata Halie Soifer, pimpinan Jewish Democratic Council of America. “Ini ofensif banget bagi mayoritas Yahudi yang peduli sama masa depan Israel.”

Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris sering gak setuju sama Netanyahu selama perang di Gaza, kadang dikritik dia di depan umum. Tapi mereka rajin hati-hati buat hindari dipanggil anti-Israel.

Kelompok konservatif dan pro-Israel beda pendapat tentang kekritisan Trump saat benar-benar ngritik Netanyahu di publik.

Presiden Koalisi Yahudi Republik Matt Brooks bilang kritikan Trump cuma semacam perselisihan biasa yang pasti terjadi antar anggota keluarga.

Brooks gak nganggep berarti ada suara kritat yang rendah dari partainya soal komentar Trump itu sebagai pesan gak konsonssitasi hati politik karena Trump goeg terbukti dukung banget Israel sebagai presiden.

“Kalo Biden atau Harris kritik sesuatu, itu dateng dari posisi seseorang yang ofensif atau gak punya dukungan buat-Israel seagung yang dimiliki Trump,” kata dia Brooks.

Dia jelasin soal peraduan Trump atawmanistasi dulu pindahin kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Lew Yeruhag uii lalu kalo pengambekal tush ubek ir trososaga penga ambila l ksab atas Per. kat asandig or indir ritu inl hth ol ch han

MEMBACA  Saya mengubah 6 pengaturan TV Samsung ini untuk meningkatkan kinerjanya secara signifikan

Aj < asar bls- Isoc ob n dewat aB oh

Tinggalkan komentar