Shaun Evans Dituduh Rasis, FIFA Bergerak Cepat: Hasilnya Sungguh di Luar Dugaan

Selasa, 16 Juni 2026 – 18:25 WIB

VIVA – FIFA akhirnya buka suara soal tuduhan rasisme yang melibatkan wasit asal Australia, Shaun Evans, di Piala Dunia 2026. Setelah melakukan investigasi, badan sepak bola dunia itu menegaskan kalo mereka nggak menemukan pelanggaran yang dilakukan Evans.

Kontroversi ini bermula setelah ada video viral di media sosial yang memperlihatkan Evans bikin gerakan tangan berbentuk lingkaran dengan jempol dan telunjuk, sementara tiga jari lainnya berdiri tegak, sebelum pertandingan Jerman lawan Curacao, Minggu 14 Juni 2026.

Gerakan itu kemudian memicu tuduhan rasisme karena beberapa tahun terakhir simbol “OK” sempat dihubungan dengan kelompok supremasi kulit putih.

Tapi FIFA memastikan nggak ada bukti yg nunjukin kalo Evans melakukan tindakan rasis.

“Komite Disiplin independen FIFA mengonfirmasi bahwa setelah menyelidiki masalah yang melibatkan asisten wasit video pendukung Shaun Evans, mereka tidak menemukan bukti pelanggaran Kode Disiplin FIFA,” gitu kata pernyataan resmi FIFA.

Komite Disiplin FIFA juga mempertimbangkan klarifikasi yang udah disampaikan Evans tentang insiden itu.

Wasit yang pernah memimpin beberapa pertandingan Liga 1 Indonesia ini ngebantah keras tuduhan yang dialamatkan ke dirinya. Dia bilang gerakan itu terjadi nggak sengaja dan sama sekali nggak punya makna tertentu.

“Saya mau mengklarifikasi bahwa saya nggak sengaja bikin gerakan tangan atau simbol untuk menyampaikan pesan, afiliasi, permainan, atau keyakinan apa pun,” kata Evans.

Menurut dia, gerakannya itu cuma reaksi spontan yang bahkan nggak dia sadari pas kejadian.

“Satu-satunya penjelasan yang bisa saya kasih adalah bahwa gerakan itu merupakan kedutan bawah sadar yang nggak disengaja dan saya nggak sadar udah melakukannya pada saat itu,” ujarnya.

MEMBACA  Kebijakan Pemerintah untuk Perkembangan Industri Gim Nasional

Perdebatan soal simbol “OK” udah terjadi dari 2019. Waktu itu, Anti-Defamation League (ADL) masukin simbol tersebut ke daftar simbol kebencian yang berpotensi dikaitain sama supremasi kulit putih.

Tapi meski gitu, ADL juga negesin bahwa makna asli simbol tuh sebagai tanda “baik” atau “oke” masih berlaku umum di banyak negara, jadi konteks pemakaiannya mesti diperhatiin.

“Kehati-hatian khusus perlu dilakukan biar nggak terburu-buru ngambil kesimpulan soal niat di belakang orang yang udah pake isyarat tersebut,” tulis ADL.

[Dengan keputusan ini, Shaun Evans terbebas dari tuduhan rasisme dan bisa nerusin tugasnya di Piala Dunia 2026.]

Tinggalkan komentar