Pidato wisuda dari satu lagi tokoh industri raksasa kini menuai kecaman dari para lulusan. Google, sekali lagi, menjadi perusahaan di balik sosok pembicara, hanya saja kali ini kontroversinya bukan tentang AI per se, melainkann keterlibatan perseroan dengan Israel.
Menurut Erin Woo dari The Information, pidato CEO Google, Sundar Pichai, diprotés dalam bentuk aksi walkout massal, disertai teriakan “Free, free, Palestine” dan “Shame on you.”
Lebih dari 100 mahasiswa Stanford berjalan keluar saat pidato wisuda Pichai di Stanford, meneriakkan “Free, free Palestine.” Google memiliki kontrak cloud dengan pemerintah Israel. Banyak suitan dan teriakan “shame on you”.
— Erin Woo (@erinkwoo) 14 Juni 2026
Dalam sebuah video dari upacara tersebut, Pichai tetap melanjutkan pidatonya selagi puluhan mahasiswa (bahkan lebih dari 100, menurut Woo) berjalan menuju pintu keluar. Bagian pidato itu tampak tidak menyentuh materi sensitif atau kontroversial—memberi kesan bahwa aksi ini bukan spontan. Bahkan, dari transkrip pidato yang dirilis, Pichai nampak baru saja memulai pembicaraanya.
Google dan Amazon memiliki kontrak bersama nan digelar “Project Nimbus” dengan militer dan pemerintah Israel. Kontrak ini dilaporkan bernilai $1,2 miliar—atau 4 miliar shekel menurut Israel—yang menyediakan komputasi awan, AI canggih, dan lainnya bagi negeri zionis. Laporan tentang detail proyek Nimbus sebagian besar bocor ke publik. Electronic Frontier Foundation pun mengkritik kedua perusahaan atas dugaan kurangnya transparansi terkait proyek ini.
Salah satu pendahulu Pichai, mantan CEO Google Eric Schmidt, mendapat hujaan keras saat pidatonya di University of Arizona sebulan lalu. Booing terjadi saat Schmidt menyinggung AI, dan saya sempat menulis bahwa Schmidt gagal membaca suasana. Ternyata memang demikian, meski belakangan diketahui bahwa sebagian booing sudah direncanakan. Schmidt sudah menjadi pembicara kontroversial karena dugaan keterkaitannya dengan Jeffrey Epstein, beberapa pengunjuk bahkan meneriakkan “Epstein files! Epstein files!”
Dalam setidaknya satu foto, mahasiswa Stanford mengangkat spanduk berwarna. Salah satunya merujuk pada ICE (Imigrasi dan Bea Cukai). Februari lalu, 900 pegawai Goolge menyerukan transparansi soal hubungan perusahaan dengan pemerintah federal, khawatir teknologinya mendukung tindakan keras imigrasi era Trump.
Memboikot pembicara wisuda telah banyak menjadi sorotan media musim kelulusan ini. Eksekutif properti Gloria Caulfield serta eksekutif musik Scott Borchetta juga di-boo pada tahun ini, hanya saja dalam kasus mereka, kemarahan massa jelas merupakan reaksi atas pembelesaan mereka terhadap AI.