OpenAI sedang menghadapi investigasi dari beberapa negara bagian AS, berdasarkan laporan Wall Street Journal. Surat kabar itu melaporkan bahwa perusahaan telah menerima panggilan resmi (subpoena) pada Jumat lalu yang meminta dokumen terkait praktik bisnisnya dan dampaknya terhadap pengguna.
BACA JUGA:
OpenAI mungkin menurunkan harga langganan untuk bersaing dengan Anthropic
The Journal, yang mengaku telah melihat panggilan resmi dari Jaksa Agung New York, menyebut bahwa penyelidik menanyakan tentang praktik periklanan OpenAI, keterlibatan dan retensi pengguna, penanganan data, serta bagaimana perusahaan mengelola interaksi dengan pengguna di bawah umur dan senior. Para Jaksa Agung juga dilaporkan menanyakan tentang model sycophancy—kekhawatiran yang kian berkembang di industri AI soal chatbot yang cenderung mengatakan apa yang ingin didengar pengguna, bukan informasi yang akurat.
Juru bicara OpenAI mengatakan kepada The Journal bahwa perusahaan menanggapi kekhawatiran ini dengan serius dan berencana bekerja secara konstruktif bersama para jaksa agung.
Mashable Light Speed
Belum jelas apa yang memicu investigasi ini, namun OpenAI belakangan ini terus dilanda masalah hukum dan regulasi. Jaksa Agung Florida sudah membuka investigasi kriminal terhadap perusahaan pada April, setelah adanya laporan bahwa tersangka penembakan massal di Florida State University tahun 2025 menggunakan ChatGPT.
Perusahaan ini juga menghadapi gugatan kematian terkait interaksi dengan chatbot. Semua ini terjadi hanya beberapa hari setelah OpenAI mengajukan dokumen ke SEC untuk melantai di bursa (IPO).
**
Pengungkapan: Ziff Davis, perusahaan induk Mashable, pada April 2025 mengajukan gugatan terhadap OpenAI, dengan tuduhan bahwa OpenAI melanggar hak cipta Ziff Davis dalam melatih dan menjalankan sistem-sistem AI mereka.*