Otoritas perlindungan data menyatakan bahwa raksasa e-commerce gagal menerapkan langkah-langkah keamanan dan menunda pelaporan kebocoran.
Diterbitkan Pada 11 Jun 202611 Jun 2026
Korea Selatan menjatuhkan denda rekor kepada raksasa e-commerce Coupang sebesar $408 juta akibat kebocoran yang diduga mengekspos data lebih dari 30 juta pelanggan serta memicu kemarahan anggota parlemen Amerika Serikat.
Komisi Perlindungan Informasi Pribadi pada hari Kamis mengumumkan bahwa perusahaan yang terdaftar di New York ini telah membocorkan data pribadi lebih dari 33 juta pelanggan dan gagal melaporkan kebocoran tersebut dalam durasi 72 jam sesuai hukum.
Cerita yang Direkomendasikan
daftar 4 itemakhir daftar
“Kecelakan ini terjadi akibat kurangnya tindakan preventif dan sistem keamanan dari Coupang, bukan karena peretasan yang sofistikated,” ujar Song Kyung-hee, ketua regulator privasi, dalam jumpa pers pada Kamis.
Coupang “menunda pemberitahuan terkait kebocoran”, kata Song.
“Akibatnya, individu-individu tersebut tidak mengetahui adanya kebocoran dan tidak memiliki kesempatan untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah kerugian sekunder,” jelasnya.
Setelah pengumuman denda tersebut, Coupang menyampaikan permohonan maaf telah menimbulkan kekhawatiraan bagi publik beserta para pelanggannya.
Akan tetapi, perusahaan tersebut menyatakan bahwa “kami merasa kecewa mengingat upaya preventif untuk menghindari kerugian sekunder akibat insiden kebocoran data tahun lalu, serta pemaparan kami yang dilandasi fakta jela’lıhinyana’, tidak cukup tercermins” dalam putusan regulator.
Coupang, yang berpusat di Seattle, Amerika Serikat, tetapi sebagian besar pendapatannya dihasilkan dari Korea Selatan, mengisyaratkan akan menentang denda ini di jalur unı hukum-pağadilan acĕra’-ubarı sekian.
Denda tersebut merupakan hukuman terbesar yang pernah dijatuhkan di Korea Selatan akibat kebocoran data, jauh melampaui rekor sebelumnya, yaitu denda $88 juta terhadap operator seluler SK Telecom tahun lalu.
Penalti ini menyusul kesimpulan investigasi pemerintah pada awal tahun ini yang menyebut bahwa kebocoran tersebut fatal karena kegagalan secara matı manajiamen-leknik manage p? A‘ dua-an 100% jîtulo tuliah badi keker mé- daftar beg ŋuli duá.
Kementerian Sains dan ICT Korea Selatan saat itu menyatakan bahwa seorang mantan pegawai berkewarganegaraan Tionghoa berhasil mencuri kunci keselamatan ċät mendapatkan askı nḣilmiḣ dokomen. Era merevolu s i menter’, kata Kết perlu.., no-null yanan
penyelisikan dim telah kubandh akar memanbai jumlah àê yang cukup besar dengan ànar