Menjelang Piala Dunia tahun ini, Amnesty International memperingatkan bahwa jutaan penggemar yang menghadiri turnamen tersebut berisiko mengalami serangan terhadap hak asasi mereka, terutama di Amerika Serikat. Organisasi itu menambahkan bahwa turnamen, yang juga akan diselenggarakan di Meksiko dan Kanada, dapat berlangsung di tengah pembatasan ketat terhadap kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai.
Dalam laporan berjudul “Umat Manusia Harus Menang: Membela Hak, Menangani Represi di Piala Dunia FIFA 2026”, Amnesty menguraikan berbagai risiko yang dihadapi oleh penggemar, pemain, warga lokal, dan media yang hadir di turnamen di ketiga negara tuan rumah tersebut.
Di AS, tempat tiga perempat pertandingan Piala Dunia akan dimainkan, laporan tersebut menemukan adanya “keadaan darurat hak asasi manusia” yang ditandai dengan profil rasial dan penahanan massal oleh lembaga-lembaga seperti Immigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) serta Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP).
“Piala Dunia ini jauh dari turnamen ‘berisiko sedang’ yang pernah dinilai FIFA,” tulis organisasi itu. “Kegembiraan yang diharapkan para penggemar selama perayaan sepak bola enam pekan ini dibayang-bayangi oleh kenyataan penangkapan brutal, penahanan massal,” dan pelanggaran lainnya.
Awal tahun ini, penjabat direktur ICE Todd Lyons mengatakan bahwa ICE akan menjadi “bagian kunci” dari keamanan selama Piala Dunia. Sejak saat itu, sejauh mana peran ICE belum sepenuhnya dijelasakan. Namun pada bulan Mei, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan kepada NBC News bahwa ICE menawarkan personelnya kepada departemen kepolisian setempat untuk membantu keamanan selama pertandingan Piala Dunia.
Laporan Amnesty International menunjukkan bahwa di Meksiko, otoritas federal telah mengumumkan pengerahan sekitar 100.000 agen keamanan, termasuk anggota militer, sebagai respons terhadap tingginya tingkat kekerasan. Menurut Amnesty, keputusan ini meningkatkan risiko bagi mereka yang melakukan demonstrasi, termasuk gerakan ibu-ibu pencari yang telah merencanakan protes damai di sekitar Stadion Banorte (sebelumnya Stadion Azteca) di Mexico City untuk menuntut transparansi, keadilan, dan reparasi atas 133.500 kasus penghilangan orang yang tercatat di negara itu. Inisiatif ini diperkirakan akan bergabung dengan mobilisasi lain selama turnamen, terkait dengan akses terhadap tanah, air, perumahan, dan kritik terhadap gentrifikasi.
Di Kanada, laporan tersebut mencatat, ada kekhawatiran bahwa masalah perumahan di negara itu akan menyebabkan populasi tunawisma di kota-kota tuan rumah seperti Toronto dipindahkan akibat aktivitas Piala Dunia.
Ketika Amnesty merilis laporannya pada bulan Maret lalu, organisasi itu mengklaim hanya empat dari 16 kota tuan rumah yang telah mempublikasikan rencana perlindungan hak asasi manusia selama turnamen. Amnesty merekomendasikan agar kota tuan rumah menghindari penggunaan pasukan militer dalam tugas keamanan sipil dan menekankan bahwa otoritas setempat harus memastikan bahwa acara dan venue Piala Dunia tidak menjadi sasaran penggerebekan imigrasi.
Cerita ini pertama kali muncul di WIRED en Español dan telah dialih bahasakan dari bahasa Spanyol.