Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan adanya dorongan fiskal dan moneter yang terkoordinasi untuk menstablikan dan memperkuat rupiah pada semester kedua 2026.
“Rupiah akan berangsur menguat lagi di semester dua 2026,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu.
Ia menambahkan, pemerintah terus memantau pergerakan mata uang setelah mengalami tekanan yang cukup kuat hingga awal Juni.
Menurut menteri keuangan, tekanan terhadap rupiah belakangan ini terutama bersumber dari sentimen pasar global yang tidak stabil, risiko pasar keuangan, serta meningkatnya tekanan pada neraca berjalan dan transaksi keuangan dalam negeri.
Untuk membalikan tren ini, pemerintah mulai melakukan intervensi kebijakan yang bertujuan ningkatin kepercayaan investor serta memperkuat pasokan valuta asing dalam negeri.
Langkah strategis yang diambil termasuk memperbaiki koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.
Secara bersamaan, pemerintah
juga meningkatkan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) dan memperdalam pasar keuangan guna meningkatkan pasokan valas domestik serta memulihkan kepercayaan investor.
Pada Rabu pagi, nilai tukar rupiah bereaksi positif dengan menguat 158 poin atau 0,88 persen ke level Rp17.900 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya Rp18.058 per dolar AS.
Analis pasar mengaitkan momentum positif ini dengan perbaikan posisi fiskal pemerintah setelah penyesuain harga bahan bakar non-subsidi.
Perusahaan minyak dan gas milik negara, Pertamina Patra Niaga, mengumumkan kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang efektif berlaku mulai 10 Juni 2026.
Dalam skema harga baru, Pertamax non-subsidi (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah tetap mempertahkan harga BBM subsidi, Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter.
Pertahanan rupiah juga diperkuat oleh keputusan Bank Indonesia (BI)
menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Pengetatan moneter ini sudah cukup berhasil mendorong indeks saham domestik dan mempertahankan minat investor asing pada lelang surat utang negara.
Berita terkait: Indonesia’s govt, DPR weigh stimulus after Pertamax price hike
Berita terkait: Pertamina adds nine million subsidized LPG cylinders for Eid al-Adha