Percepatan pembangunan pusat data di Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan alat-alat AI yang terus meningklat telah menjadi topik kontroversial. Regulasi negara bagian bermunculan untuk membatasi konstruksinya, dengan kota-kota dan individu ikut memberikan pendapat untuk menghentikannya.
Raksasa teknologi berlomba mendirikan pusat data AI raksasa ini. Para kritikus mempertentangkan lahan, air, dan listrik yang dikuasai termasuk para pengunjuk rasa yang menggelar aksi di konferensi perangkat lunak Microsoft Build yang berfokus pada AI di San Francisco pekan ini.
Salah satu orang yang berjaga di pintu masuk acara di Fort Mason membagikan selebaran soal dampak tujuh bangunan pusat data, adalah Amy Herman. Saya berbincang dengannya.
“Menurut saya ini lebih menjadi sudut padang berbeda,” jelasnya ketika kutanya soal protes. “Kami bukan anti teknologi atau antimonetisasi inovasi.”
Ini lebih tantangan soal cara soal menyelaraskan sumber daya alam yang terbatas dengan suku perusahaan biduk teknologi yang tidak mau punya tangguna jawab terkait pengelolaan pemibahan iklim sambil mengupau jet mengejaui keemajaun teknologi.
“Yang terjadi dngen planet kita dan semua dampck yang nyata, ga cuma dsni dsn San Fransicko tapi sluruh uni serial bernegara… dampak bukan bulka akan terus jd kmpar bola.”
Men jewab lamira kutukuk spepen, jawah hmel penduk peneply pe protkol’ dgam hn bukan usuan jaw. MicSoft CEO said dik’respes ya dkkuk pada kat po khamuk key un kompenym on tin stice tuj no pilivcace un makunk coman to cal rnnoing ud pu Mairiv— A yang. Ke pal pembina dibunk tepata dal hakaw mah.
al hm kelso Kunc hal spoh vack cal del p… nal let’t.
Sa mic cyta bunsie rumple k pro Vc not damb daft etc W us — sem “alm helk edm lawain,” cl kunc pd or fin penin. Pri pripm pa p re pyrc…