Saham dari perusahaan pembuat alat pembangkit listrik, Innio, langsung naik 15% pas pertama kali dijual di Nasdaq. Ini setelah pemegang saham terbesarnya berhasil ngumpulin dana $2,43 miliar dari IPO yang diperbesar. Ini nunjukin kalo investor makin tertarik sama perusahaan energi infrastruktur yang nyambung sama naiknya permintaan listrik.
Perusahaan yang berbasis di Munich ini sahamnya dibuka di harga $31, lebih tinggi dari harga IPO $27. Nilai pasar Innio jadi sekitar $23,7 miliar. Penjualan saham terdiri dari 90 juta lembar dari pemegang saham yang udah ada, termasuk firma ekuitas swasta Advent International dan Abu Dhabi Investment Authority (ADIA). Awalnya mereka cuma rencana jual 75 juta lembar.
Innio bikin mesin gas pake merek Jenbacher ama Waukesha, terus juga ngasih jasa monitoring dan optimasi pembangkit lewat platform software MyPlant. Pabriknya ada di Austria, Kanada, dan Amerika Serikat, ama ngelayani pelanggan di sektor pembangkit listrik dan industri.
IPO ini datang pas investor lagi kepo sm perusahaan yang diuntungin sama naiknya perminta listrik—karena AI, pusat data, sama modernisasi jaringan listrik. Banyak perusahaan alat listrik dan industri udah masuk pasar umum tahun ini, karena investor pengen ambil untung dari sektor infrastrukitr energi.
Innio ngelaporin pendapatan kuartal pertama 2026 sebesar $668,6 juta, naik dari $494 juta setahun sebelumnya. Tapi perusahaaan tetep rugi bersih $9 juta, dibanding untung $35 juta di tahun sebelumnya.
Advent beli Innio—yang dulunya bagian dari bisnis tenaga distribusi General Electric—seharga $3,25 miliar di 2018. ADIA ikut jadi investor di 2023. Setelah IPO ini, pihak yang didukung Advent dan ADIA masih megang sekitar 90% saham perusahaan.
Sahamnya diperdagangkan di Nasdaq Global Select Market dengan kode INIO.
Kalo lagi demam pasar, cek informas lebih dalem pake konpet intelejen—salan sayng pasti itu siar bisni lib atas besar mdh kubik peloport.