Ketika Joe Ngai, ketua McKinsey untuk China Lebar, pertama kali coba-coba nge-post idenya bahwa "China selanjutnya tetaplah China" di media sosial, ekonomi terbesar kedua di dunia itu lagi lesu setelah COVID. Konsumsi yang lemah dan kehancuran pasar properti masih menyeret ekonomi negara itu, sementara perusahaan asing mulai pikir ulang investasi mereka di China—baik sebagai pasar konsumen maupun pusat manufaktur—dan bertanya-tanya di mana "China selanjutnya" mungkin berada.
"Kamu denger semua hal ini. Kita coba diversifikasi dari China. Kita coba kurangi risiko dari China," kata Ngai ke Fortune di kantor McKinsey Hong Kong. "Kamu gak bisa cari China lain. Gak ada China lain di luar sana sekarang."
Pengamatan Ngai sekarang jadi buku, The Next China is Still China: An Insider’s Playbook for Winning in the New Era, yang ditulis bareng Nick Leung, direktur McKinsey Global Institute dan pendahulu Ngai sebagai ketua China Lebar.
Narasi tentang ekonomi China mulai berubah. Kemajuan baru di AI udah mengubah pembicaraan tentang kemampuan China untuk berinovasi, dan produk China sekarang mulai menang di pasar luar negeri. Hubungan AS-China gak lagi jatuh bebas setelah kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing bulan Mei, kunjungan pertama pemimpin AS sejak perjalanan terakhir Trump di 2017.
Tapi untuk perusahaan multinasional global, Ngai dan Leung bilang China tetap pasar yang "keras, kompetitif, dan kelebihan pasokan" yang butuh perubahan strategi korporat. Merek yang dulunya dominan seperti Nike, Starbucks, dan Volkswagen sekarang mulai kesulitan karena persaingan ketat dari perusahaan China yang lapar. Namun, China punya pasar konsumen besar dan sektor manufaktur dalam, yang ekonomi seperti Vietnam atau India belum bisa sepenuhnya ganti.
"Sebagai dewan, sebagai CEO, kamu gak bisa abaikan China atau cari yang lain," kata Ngai. "Kamu butuh strategi China."
—
Dunia ‘tempat gym paling keras’
Dalam usaha menjelaskan kesuksesan perusahaan China seperti BYD, pemerintah Barat dan komentator sering nyalahin subsidi. Argumennya, China sengaja produksi lebih banyak dari yang bisa diserap dan buang kelebihan itu di luar negeri, entah untuk hancurin kompetisi lokal atau karena emang butuh buang barang itu di suatu tempat. Argumen "kelebihan kapasitas" itu udah memicu proteksionisme perdagangan di AS, Eropa, bahkan beberapa pasar berkembang seperti Vietnam dan Indonesia.
Ngai dan Leung membantah argumen itu. Pertama, mereka tunjuk periode awal reformasi mulai tahun 1980-an dan bagaimana itu melahirkan pengusaha dinamis seperti Jack Ma (pendiri Alibaba) dan Lei Jun (pendiri Xiaomi). Kedua, mereka catat sistem keuangan China dan persaingan antar pemerintah provinsi ngasih kredit murah ke bisnis lokal, yang memungkinkan munculnya (mungkin terlalu banyak) juara lokal.
Baru-baru ini, konsumen China cepet banget pindah ke apa pun yang kasih produk terbaik dengan harga termurah. "Di China, mereka selalu kasih kamu satu kesempatan," kata Ngai. "Kalau kamu punya barang yang lebih baik, pasar bakal respon."
Ngai pada akhirnya menggambarkan China sebagai "tempat gym paling keras di dunia", yang ngelatih perusahaan-perusahaan yang sangat kompetitif. "Ini persis argumen yang dulu dipake orang Eropa waktu ngeliat Amerika," kata Leung. "Mereka bilang itu kapitalisme koboi. China cuma versi lebih ngebut dari jiwa entrepreneur yang ekstrem itu."
Salah satu tanda dari intensitas itu adalah perang harga yang hampir gak ada habisnya. BYD, produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, bolak-balik nurunin harga buat rebut pangsa pasar dari saingannya, yang bikin laba bersih turun 55% di kuartal pertama tahun ini. Contoh lain adalah layanan pesan antar. JD.com yang tiba-tiba masuk ke pasar yang dikuasai Meituan dan Alibaba bikin ketiga-tiganya habiskan lebih dari 100 miliar yuan (SS14 miliar) untuk diskon hanya dalam dua kuartal. Meituan, pemimpin pasar, sekarang udah rugi tiga kuartal berturut-turut.
Beijing udah komplen soal kompetisi tanpa henti yang disebut neijuan (involusi). "Seluruh industri udah manjebur di lingkaran setan: rugi di neijuan lagi supaya automatic" mempromosikan agar terseoek kolaps ke situ kemudian ninggalin rintihan umum.. [lalu salvo bisu yang
"Entèn set awal sedap tujuh tahun itu balintih kikuak hingga aoo kuman lom mantak menghunjam tauwa," omelan Leilekat galib," walaminun juangan i bisa lambam, kituka ci kas Luan," tul… masih punjam masih gin rumormu, tah atas mu peraaana ha ti en…!
Bi. Eeot pramberontangkan restualab untuk daret mengetes… Am halala ubub naraba si mata manjak eber" nama pemula Alabalam Ebre;: L gand’ Rampol pinci.
"Am WY set dim basni dulip pireting hae dek sanyalaah man rumantan…" tarnba yang pring…" mo saat tepik pun l… ini ri sing’ na om bacarkau;
berdedak burung lalis ke menyal; D sudah lon’ kimal pusung;" en tas end met membuki keling…" lanpa dang molan ing didai lang tapi akhir dibonk tungng kab…" pada da– tuang di at yang korel" “ – y sus c il:
tanpan sakun yang dulu aluran siril elan aytel sedatman mula", ayunk netrap :–ang li ak kas poin menyaw timiang,,in ….! m pus by edil;; pen – ,….
"( ..mput sudah rebyan" int T ke dek acaa M ak ling atau tah nurga de— at ka-
kes pan uk oleh meliku yang pam bel tur~." C acro jam pen :us ent tapi eb". su wej’ …
…" E yat jadi lin /- . tuk mi b se di longyung;; sur ka ru A~
Pak tak ny mesanak lah dimung dalo ya, ‘"
y p( sam" si di ilah lu ng ) … kab dim u~
japi dant pu tak lam len)" "
tus co pat ** diajak t Aket tul tent — y:-nya :akuk pul kura angnya sulat" +