Ketika Dr. Deepika Chopra naik panggung di Fortune COO Summit, dia enggak buka dengan slide atau kerangka kerja. Dia minta semua orang tutup mata dan bernafas.
Chopra—seorang psikolog klinis, ilmuwan perilaku, dan wanita yang punya gelar "Dokter Optimisme®"—bilang dia ingin buktikan sesuatu sebelum ngomong sepatah kata pun tentang kecerdasan buatan: Kita habisin waktu terlalu banyak buat ngomongin teknologi, dan gak cukup waktu buat ngomongin manusia yang menjalankannya.
"Setiap percakapan tentang AI, pada akhirnya adalah percakapan tentang perubahan," katanya ke ruangan. "Dan perubahan itu, terutama bukan pengalaman teknologi. Itu pengalaman psikologis."
Masalah resistensi yang sebenarnya
Siapa tau para COO di ruangan—banyak yang lagi sibuk dengan adopsi AI skala besar—mikir ini: pertolongan atau kritik? Ngeroll-out inisiatif teknologi besar dan nemuin tim menolak, salah ngerti, atau pelan-pelan mampetin, itu salah satu frustasi paling umum di kepamimpinan perusahaan sekarang, dan jadi topik hangat di konferensi itu. Jawaban biasanya ibvestasi lebih di manejemen perubahan, komunikasi yang lebih jelas, pelatihan yang lebih baik.
Argumen Chopra adalah bahwa kebanyakan jawaban itu justru nyelesain masalah yang salah.
"Apa yang sering diartikan pemimpin sebagai resistensi," ujarnya, "kadang sesuatu yang beda. Itu respons manusiawi yang normal menghadapi ketidakpastian. Bukan masalah kemampuan. Ini masalah psikologis."
Mekanismenya, jelasnya, adalah neurologis. Pas ketidakpastiaan meningkat, sistem deteksi ancaman otak—amigdala—aktif. Pikiran jadi sempit, toleransi risiko turun, kreatifitas nyusut, dan orang lebih terikat sama cara lama yang udah biasa. Enggak ada masalah keras kepala atau sabotase, jelas Chopra. Ini otak kerja sebagaimana desainnya: Melindungi tubuh dari hal yang tidak dikenal.
"Manusia gak sesungguhnya kesulitan sama hal-hal yang sulit," kata Chopra. "Kita kesulitan sama hal-hal yang belum diketahui." Makanya, apa yang lebih besar gak diketahui sekarang, kalo bukan AI?
Ini bukan tentang teknologi
Diagnosa yang lebih dalam—dan yang paling bisa buat pemimpin, yang udah habisin juta-an untuk manajemen perubahan AI, risih—adalah bahwa ketidakpastian yang ngedorong resistensi ini terutamanya bukan karena soal keamanan kea atau ganggunan alur kerja. Ini tentang hal yang lebih mendasar.
Chopra bilang saat dia ketemu klien-klien bahas ini, "seringkali yang denger adalah orang-orang nanya: ‘apakah saya masih penting? Apakah suport saya penting? Dimana saya bisa menambah nilai?’"
Cu, ang… untuk nilai," mau dibuka…"/ dia.] genya panjang. Padahal um ntar..
Dia jengukin..hent.
"iyaitu langsung