Oleh Robert Harvey
LONDON, 3 Juni (Reuters) – Banyak airline terkena dampak dari perubahan harga di pasar bahan bakar jet, dan beberapa tidak bisa melindungi risiko mereka, kata kepala urusan bahan bakar International Air Transport Association pada Rabu.
Beapak airline dengan strategi lindung nilai lebih rumit dapat sedikit tenang, kata Daniel Chereau pada konferensi S&P Global Energy Middle East Petroleum and Gas. Tapi, efek dari melejitnya margin keuntungan kilang bahan bakar jet, yang dikenal sebagai crack spread, tidak membantu industri penerbangan, tambahnya.
Di Eropa Barat Laut, crack spread bahan bakar jet mencapai rekor tertinggi lebih dari $121 per barel pada Maret, menurut data LSEG, dibandingkan sekitar $30 per barel sebelum perang Iran pecah di akhir Februari.
Timur Tengah memasok banyak bahan bakar jet dunia, tapi kemampuan memproduksi dan mengekspor bahan bakar itusudah sangat terhambat karena penutupan Selat Hormuz dan serangan pada instalasi energi.
Penghancuran permintaan mulai terjadi di sektor penerbangan, meskipun tidak selalu karena harga bahan bakar jet sendiri, kata Chereau.
Penghancuran permintaan disebabkan oleh airline yang membatalkan penerbangan, katanya, sementara di beberapa bagian dunia bandara mulai kehabisan bahan bakar untuk periode pendek.
Dia memperigatkan bahwa kasus seperti itu bisa makin sering, dan semakin lama konflik berlanjut, semakin besar penghancuran permitaan bisa datang dari sisi penumpang.
Chereau tidak menyebut airline atau bandara tertentu yang paling terdampak parah.
(Dilaporkan oleh Robert Harvey di London; Disunting oleh Bernadette Baum dan Joe Bavier)