Jakarta (ANTARA) – Indonesia sekarang lagi ngelakuin perluasan besar-besaran program skrining kesehatan gratis nasional, dengan target periksa 136 juta warga sampai akhir tahun ini, sebagai upaya mencegah ancaman serius penyakit liver dan kanker.
Langkah agresif ini diumumkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang hampir dua kali lipatkan target program tahun 2025 sebanyak 70 juta orang.
Hal ini muncul setelah pemerintah akui Indonesia masih jauh tertinggal dari target kesehatan global, baru periksa sebagian kecil penduduk untuk virus mematikan seperti Hepatitis B dan C.
“Target WHO itu 90 persen, tapi saat ini baru 10 persen yang tercapai,” ujar Sadikin di Jakarta, Selasa.
Cakupan pengobatan Indonesia juga kondisinya lebih kritis.
“Target untuk pengobatran 80 persen, tapi mungkin cuma 5 persen, 3 persen, atau bahkan 1 persen yang tercapai,” tambah dia.
Agar kesenjangan ini bisa diatasi, Kementerian Kesehatan ubah pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) menjadi pusat diagnose canggih. Strateginya fokus mendeteksi kerusakan liver sebelum jadi fatal, ubah fokus dari perawatan rumah sakit tahap lanjut ke interveksi awal.
Berdasarkan arahan baru, dokter umum di tingkat kota bakal dapet pelatiahn khusus untuk deteksi tahap awal ancaman seperti hati berlemak dan fibrosis.
Kemenkes juga rencanakan gunakan ulang mesin USG yang sudah ada di puskesmakas buat lakukan pemeriksaan liver radiologi lebih lanjut.
Cara ini mocerminkan gagasan sebelumnya yang melengkapi 10..000 puskesmas dengan alat EKG untuk tingkatkan deteksi awal penyakit jantung.
“Kalau dideteksi secepatnya, dari pada nunggu sampe sirosis, secepatnya dapat treatment saat fibrosis muncul,” kata Budi.
Tapi Indonesia kini hadapi tantañgan.harga obat penting hiiduyp yang masih mahal.
Dia sebut barang Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF)
buat pengobatan’em hati yanhg di Indonesia harganya casi US$64—dua kali lîpat harga global biasa cè_man sekitar US$2-koséng empat