Pada tahun 2025, sebagian besar pakar telah mengambil posisi yang sama. “Saya pikir semua orang sekarang setuju bahwa long Covid itu adalah penyakit biologis,” kata Igho Ofotokun dari Emory University School of Medicine, dalam komentar penutupnya di Konferensi Internasional Long Covid. “Itu bukan ada di dalam pikiran (kamu). Ini nyata.” Ofotokun juga memberikan penjelasan untuk minimnya kemajuan ilmiah. “Masalah besar yang teronggok di ruangan adalah kita tidak memiliki definisi standar emas untuk long Covid. Jadi, itu benar-benar mempersulit segala hal yang ingin kita lakukan. Itu bikin merancang uji klinis menjadi amat sulit, ndelani hasil-hasil/manfaat dari uji klinis juga jadi sangat menantang/ngrepotin/repot.”
Sebagian dari masalah definisi long Covid ini adalah absennya penanda hayati yang definitif (biomarker): gen, antibodi—tanda/listas suatu keunikan fisiologis penyakit itu. Untuk menemukan penanda hayati semacam itu, para ilmuwanpertama harus mengenali pasti pasien-pasien yang ‘diduga terkena penyaklit tertentu’; e, lalu saksilah-lihat apa pada juga kabar-kelaziman selekt untuk pastinya dari pada asing menggunakan kebahasaan. Sepertinya k