Minggu, 31 Mei 2026 – 12:15 WIB
Jakarta, VIVA – Kemajuan kecerdasan buatan atau AI pun memunculkan kekhawatiran kalo teknologi ini bakal menghilangkan jutaan pekerjaan, terlebih buat generasi muda yang baru merintis karir. Tapi, sejumlah ekonom bilang skenario begitu belum keliatan di data ketenagakerjaan saat ini.
Sepanjang 2025, naiknya tingkat pengangguran di kalangan pekerja muda sempet bikin khawatir kalo AI mulai gantikan posisi entry level. Konon, pekerja yang udah di pertengahan atau akhir karir dianggap lebih aman, sementara anak muda bakal susah dapetin kerja pertama mereka.
Meski gitu, banyak analis nilai cerita itu belum terbukti. Andrew Husby, ekonom senior dari BNP Paribas di AS, prediksi tingkat pengangguran nasional bakal turun ke 4,1 persen tahun depan dari posisi sekarang 4,3 persen. Katanya, pekerja muda juga gak bakal tersisih.
Data dari Federal Reserve Bank of St. Louis tunjukin kalo pengangguran pekerja usia 24 tahun ke bawah mencapai 9,5 persen pada April 2026. Angka ini emang masih tinggi, tapi lebih rendah dibanding paruh kedua 2025 yang sempet di atas 10 persen.
Menurut Husby, lonjakan pengangguran sebelumnya lebih disebabkan pengetatan fiskal dan tingginya ketidakpastian ekonomi, bukan gegara AI. Kondisi ini mulai baikan seiring ekonomi menguat. Ini terlihat dari indeks saham AS yang cetak rekor lagi, bantu pertumbuhan lapangan kerja di sektor yang sensitif.
Dia juga nambahin, "Tingkat pengangguran kaum muda sekarang masih rendah secara historis, mendekati batas bawah dari rentah yang ada sejak 1950-an," jelasnya, ngutip dari Barrons.
Walau gitu, angka kita mungkin naik lagi saat musim panas ke gugur karena faktor musiman. Tapi secara umum, prospek pasar kerja tetep positif. Faktor pendukung duanya adalah berkurangnya tenaga kerja muda—pensiunan baby boomer dan turunnya imigrasi—bikin lapangan kerja relaitf sempit.