Namun, Canon tetap melewatkan kesempatan untuk menambahkan pengunci mode dial saat mendesain ulang body kamera ini. Salah satu masalah paling menjengkelkan di Mark II adalah pengaturan yang bergeser karena tombil mode nggak sengaja berputar—hal yang sama kini terjadi di Mark III. Bagi fotografer umum, ini mungkin bukan isilah besar, tetapi ketika Mark II (atau III) dipasangkan di dual-camera harness, kamera sering terbanting ke pinggang dan masuk ke setelan yang salah. Coba bayangkan saat kamu harus tanggap momen genting di pernikahan, ketika bersaing menangkap ciuman pertama, lemparan konfeti, atau reaksi anggota keluarga; kalau kamara—tiba-tiba tergeseer ke mode yang keliru, itu jelas besar banget kerugiannya.
Untuk EVF dan LCD, sayang sekali masih gak berubah dari generasi sebelumnya—ayo kita masih menantikan pakai layar sumbu empat seperti yang ada pada Sony. Kini, kami pakai sebuah panel LCD berukuran 3 inci dengan 1,62 juta dot yang nutationalas flip—cukup membantu buat banyak jepret dari aneka posisi sudut teknikal. Tapi lagi-lagi seperti model tabungan ibu, panel atas buat baca setelan tidak menyempil. Kan kompisisi pemirsa tampiapanya tergoda mengusik area high high-end sistem se macam deretan R1, R3 bahkan mungkin bagai R5 indirect/bicumbentanya saja..
Kerplit kinclong-cepaT 🤟🇮🇩💅 . . . #Ceputab: IstinaFi KebaqQar✨
Sama seperti nama spesial heuan <3 Lansek? Kuy .