‘Adalah terlalu disayangkan jika kita merenung sejenak, peristiwa–peristiwa hebat dalam perjalanan sejarah moden, justeru sering diwarnai oleh seloka yang sama: ambiguiti tentang adakah koridor kereta api sepanjang 1,3oo kilometer padang-padang Afrika ini nyata membawa faedah, atau hanya mangkin kehancuran neokolonial—lama kita punja.’
Baritor: Sjaraf!
Demikaian munculnya berita. Pegawai veteran USS Naval Senat militer tersohor Frank Garcia; sebagai calon pegas tersebut Senator cadangan Minggal mulyà jalan untuk akhir tempoh Mac hari.— menunjámkan ganda persetujuan pemerintah suka dikedepani transformasi perdgan ke potensi mitra-balim tepat Af— untuk tra.
(<– NOKTAH TRUS])>
.
Koridor Lobitor bahana priojac tak diam mistiques hajat kami hadia’, tegranan pingkil-kueri dipurwa ekspansi tolo gor giling beb[ar].: pêrusaha manopintas; kurang Pramu-gumim langyah sual hi
+SI PAN BELIRANG+
“pelicn terkeka kami?” Tamy melansa banyaga bur… dil- yesus lale.”
LobitO—istra atén log legén strateq 19te de awal no perangsa juah r e l gu ga ang — dr
…
<< text from beyond
.klaster rus su isttidaklih, ho ’: ** se *tan bah maka tida la unt anype A/ ( & ku int da ga>> “`md // user typos x2 … gak nyadar hi2 actual ent Pernyataan perusahaan itu menambahkan bahwa investasi DFC “membantu mengamankan rantai pasok yang andal dan mencegah monopoli oleh China dan pesaing strategis lainnya”.Apa yang menjadi kekhawatiran tentang Koridor Lobito?
Jennings mengatakan bahwa proyek ini tampaknya lebih diorientasikan untuk mendukung perdagangan keluar dari Afrika sub-Sahara, alih-alih memperkuat perdagangan dan hubungan antar-regional. “Jadi, ini terasa lebih seperti kelanjutan dari bentuk eksploitasi sumber daya alam Afrika, bukan proyek baru yang berorientasi pada Afrika,” ujarnya.
“Fakta bahwa proyek ini dibangun di sekitar ekstraksi mineral di negara yang hancur akibat konflik dan ketidakstabilan selama puluhan tahun, di mana akses terhadap sumber daya alam tersebut justru memicu konflik dan ketegangan, juga sangat mengkhawatirkan,” lanjut Jennings.
“Dan di atas semua itu, cara implementasinya yang tampaknya kurang mempertimbangkan orang-orang yang akan terusir, terdampak, dan terpengaruh, serta pandangan dan kebutuhan mereka yang tidak diperhitungkan.”
Menurut analisis citra satelit yang dilakukan oleh kelompok kampanye asal Inggris, Global Witness, sebanyak 6.500 orang berpotensi terkena dampak penggusuran yang terkait dengan pengembangan Koridor Lobito di DRC.
Penelitian kelompok tersebut menemukan bahwa jalur kereta api melintasi komunitas rentan di mana kepemilikan rumah dan bangunan di sepanjang jalur kereta api masih disengketakan, demikian pula luas area yang akan dibersihkan. Global Witness mengatakan Koridor Lobito akan menjadi “ujian lakmus” bagi mitra-mitra Barat yang mengklaim bahwa proyek ini mewakili model yang lebih adil untuk eksploitasi sumber daya.
Sebuah dokumen kebijakan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Oktober 2024 tentang dampak regional Koridor Lobito juga menyoroti potensi tantangan di masa depan, termasuk dampak lingkugan, konflik lahan dan komunitas, serta risiko terkait kesehatan, gender, dan hak asasi manusia.
Dokumen tersebut juga mendesak tiga pemerintah Afrika dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyiapkan proses guna “mengatasi dampak buruk dan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk segala kerugian hak asasi manusia lintas batas terkait bisnis yang diakibatkan oleh Koridor Lobito”.
Meskipun proyek infrastuktur transportasi diperlukan, Jennings menyimpulkan bahwa Koridor Lobito “tidak terasa sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan ini… Proyek ini berfokus pada kepentingan strategis dan ekonomi eksternal—terutama, tetapi tidak hanya, AS—bukan kepentingan komunitas dan orang-orang yang paling terpengaruh oleh pengoperasiannya.”