Upaya pemulihan dimulai setelah bangunan roboh di Kota Angeles, dekat Manila, menewaskan setidaknya empat orang.
Diterbitkan pada 26 Mei 2026
Petugas darurat di Filipina utara telah mengakhiri operasi penyelamatan selama dua hari untuk 16 orang yang hilang usai gedung sembilan lantai yang tengah dalam pembangunan runtuh, yang telah menewaskan seidaknya empat jiwa.
Fokus beralih pada Selasa untuk memulihkan jasad korban, setelah empat jenazah—termasuk seorang pria warga Malaysia dan dua pekerja konstruksi yang terjebak—berhasil dievakuasi dari puing-puing proyek kondominium yang ambruk dan menimpa hotel di dekatnya di Kota Angeles, utara Manila, pada Minggu dini hari.
“Kami paham betapa beratnya ini bagi Anda,” ujar Maria Leah Sajili, petugas informasi di Biro Perlindungan Kebakaran setempat, dalam jumpa pers pada Selasa.
“Kami turut berduka atas apa yang Anda alami. Percayalah, kami telah melakukan segala upaya demi menyelamatkan nyawa, dan kini kami harus melangkah maju,” tuturnya.
Personel militer dengan anjing pelacak melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi bangunan runtuh di Kota Angeles pada 25 Mei 2026 [AFP]
Alfredo Albis, 55, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ia yakin dua sepupunya yang bekerja bersamanya di lokasi tersebut termasuk dalam daftar orang hilang.
“Mereka bekerja di sini untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka,” ujar Albis yang tengah tertidur di barak pekerja terdekat saat gedung itu ambruk.
Otoritas menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan pada Senin malam setelah tim penyelamat, menggunakan alat pendeteksi kehidupan, memastikan tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan.
Awalnya ada 17 orang yang tercatat hilang, namun petugas penyelamat menyatakan salah satu dari mereka menghubungi pihak berwenang pada Senin untuk mengonfirmasi bahwa ia tidak berada di lokasi saat kejadian, jelas Sajili.
Pejabat menyebutkan hingga 70 orang dipekerjakan di lokasi konstruksi ini, meskipun sebagian besar telah pulang untuk akhir pekan.
Harapam memudar
Barnaby Lo dari Al Jazeera, melaporkan dari Angeles, menuturkan 48 jam terasa bagaikan “rollercoaster” emosi bagi keluarga para pekerja konstruksi yang masih diduga terkubur di bawah puing.
Pada Minggu, tim penyelamat mendeteksi tanda-tanda kehidupan dari dua orang dan sempat melihat mereka dalam keadaan hidup, namun optimisme sirna ketika satu ditemukan tewas dan satu lagi meninggal tak lama setelah dievakuasi, ujar Lo.
Pada Senin sore, lanjutnya, tim penyelamat kembali mendeteksi tanda kehidupan menggunakan sensor termal di area yang sama, tetapi pihak berwenang menghentikan pencarian dengan dugaan bahwa detak jantung yang tertangkap berasal dari hewan-hewan di reruntuhan.
“Harapan saya untuk menemukannya masih hidup telah hancur,” kata Lea Casilao, yang suaminya masih hilang, kepada kantor berita Reuters.
Casilao menceritakan, ia dan suaminya berencana bertemu di lokasi konstruksi pada Minggu sore; ia dijadwalkan dijemput sang suami.
Namun ketika terus tak bisa dihubungi, ia langsung menuju lokasi dan menyaksikan kumpulan beton, besi berantakan, serta perancah yang runtuh.
“Terus saya panggil nomornya, tetapi tidak ada jawaban,” ujar Casilao, 47, duduk di tenda darurat sementara sebuah buldoser di luar mulai membersihkan puing-puing dari jalan.