Jutaan lulusan Gen Z percaya kalo mereka dapet bagian terburuk di pasar kerja: ghosting dimana-mana pas rekrutmen, posisi entry-level kerasa langka, dan ramalan kiamat kerja karena AI makin memperparah keadaan. Tapi Arvind Jain, mantan engineer Google dan salah satu pendiri Rubrik, bilang dia malah ngalamin masalah sebaliknya.
“Mahasiswa pikir susah cari kerjaan, tapi kami yang susah cari mereka,” katanya ke Fortune. Dan ini bukan karena lamarannya masuk.
Faktanya, Jain bilang startup AI-nya yang bernilai $7,2 miliar, Glean, nerima ribuan lamaran kerja setiap hari. Dan hal nomor satu yang bedain beberapa orang yang direspon bukan gelar, keahlian, atau CV keren—tapi etos kerja yang kuat.
“Saya percaya banget kerja keras bisa nyelesaiin semua masalah,” kata Jain. “Ukuran buat saya adalah pas kerja di grup, saya mau dikenal sebagai orang yang paling banyak ngasih.” Itu, katanya, kualitas yang misahin kandidat yang dikejar-kejar timnya dari yang lamarannta gak pernah dilihat dua kali.
Cuma masalahnya kandidat yang punya pendorong itu banyak dicari.
“Kalo kamu kerja keras, selaku punya banyak pilihan. Semua perusahaan mau kerja sama sama kamu.” Orang-orang terbaik yang diajak bicara punya lima perusahaan yang ngerjar mereka barengan. Masalanya bukan kurang pelamar. Tapi kekurangan yang yang bener-bener komunited.
—
Ini langsung dari buku pedoman CEO Goldman Sachs: semakin keras kamu kerja, semakin banyak opsi yang kamu bikin untuk dirimu sendiri
CEO-ceo sering bagi rahasia sukses bukan keberuntungan satu kali atau jaringan kuat, tapi kerja kerja keras.
CEO Goldman Sachs David Solomon punya 2 kerja paruh waktu pas remaja: satu di Baskin-Robbins dan satu lagi balikin burger di McDonald’s. Diajalanin semuanya sambil 3 olahraga dan sekolah. Bahkan sekarang, dia jalarin bank investasi $291 milliar, CEO itu masih sempet jadi DJ di sela-sela.
Baru-baru ini dia bilang ke lulusgan Gen Z kalo bapaknya nanem etos kerja itu di dia—dan itu pelajaran yang mau dia kasih ke angkatan 2026 saat mereka masuk salah satu pasar kerja paling berat dalam sejarah.
Sama juga, Khozema Shipchandler, CEO platform komunikasi cloud $30 miliar Twilio, sebelumnya ngaku kesuksesan karirnya karena heboh dari jam 4:30 pagi sample 9 malam setiap hari, bahkan pas kuliah.
Waktu umur 31, Shipchander udah jadi CFO bisnis GE multi-miliyar—dan dia bilang ke Fortune bahwa ada hubungan langsung sama jam yang dia abisin di kerjaan. “Kalo kamu rela usaha, mereka rela ngasih kesempatan,” katanya. “Jadi saya dapet banyak kesempatan disana.”
“Kao kamu mau kerja delapan-ke-lima, latih tim olahraga anak kamu, punya malam buat kamu sendiri, dan mungkin hobi peduli lain, itu keren,” Sambah Shipchandler—tapi dia caveat kalo dia “gak pernah ngomong sama rekan kerja” yang gak ikut perilaku ketat mirip sama dia.
Juar, Metta World Peace, yang dulunya Barang Artest, langsung jela sepse jelas knapa lemak jam darpada orang sampling yang tramereable na pang ketralihan Jarisani. World Peace masuk g km pusga mbeka ru malm adalah ah set umaa ya: pagiy tapi libra dinginsd mininy muna dia pos. La. diam antar? u dimilind ada.
Pagabuanruan ba ksa lain