Fakta Mencolok!

Jumat, 22 Mei 2026 – 23:05 WIB

Jakarta, VIVA – Minat perempuan muda Indonesia terhadap dunia teknologi terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Tapi di balik perkembangan ini, tantangan untuk mendapat kesempatan yang setara di dunia kerja masih jadi persoalan nyata.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan “Perempuan dan Laki-laki di Indonesia 2024” menunjukan tingkat partisipasi kerja perempuan usia produktif masih di angka 52,86 persen. Angka ini jauh tertinggal dibanding laki-laki yang mencapai 79,85 persen. Bahkan di kalangan lulusan perguruan tinggi, tingkat pengangguran perempuan tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi dari laki-laki. Scroll buat tahu lebih lanjut, yuk!

Fenomena ini jadi salah satu alasan pentingnya ruang diskusi dan dukungan bagi perempuan yang ingin berkarier di bidang STEM, yaitu Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika. Banyak perempuan muda yang sebenarnya punya kemampuan, tetapi masih ragu buat masuk ke industri teknologi yang selama ini identik dengan laki-laki.

Berangkat dari situ, program STEM Talks bertema “Cracking the STEM World: From First Steps to Finding Your Place” diselenggarakan di Dia.Lo.Gue, Jakarta, pada 8 Mei 2026. Acara ini diikuti puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang ingin mengenal lebih dekat peluang karier di industri teknologi.

Acara tersebut menghadirkan Sabrina Anggraini dan Gabriella Kawilarang sebagai Principal Product Manager Grab Indonesia. Dalam sesi diskusi, mereka berbagi cerita tentang perjalanan karier, tantangan, sampe pentingnya keberanian buat nyoba hal baru di dunia teknologi.

Menariknya, topik yang dibahas nggak cuma soal kemampuan teknis. Banyak peserta ternyata lebih penasaran soal cara membangun rasa percaya diri, menghadapi stereotip gender, dan cari lingkungan kerja yang suportif untuk perempuan.

MEMBACA  Angelina Sondakh Bocorkan Fakta Mengejutkan: Anggota DPR yang Idealisme Pembela Rakyat

Rivana Mezaya, Director of Digital & Sustainability Grab Indonesia, bilang bahwa dunia teknologi butuh lebih dari sekadar kemampuan coding atau kuasai sistem.

“Kami percaya teknologi tidak cuma dibangun lewat kemampuan teknis, tapi juga lewat empati, problem solving, dan keberanian untuk mencipatakan dampak nyata. Lewt STEM Talks, kami ingin makin banyak perempuan muda lihat bahwa mereka punya ruang dan kesempatan yang sama buat tumbuh dan berkarya di teknologi. Kami berharap kehadiran para Women Tech Leaders di Grab bisa jadi role model dan buka wawasan baru buat generasi muda perempuan,” kata Rivana dalam keterangannya, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.

Halaman selanjutnya – Sekarang, semakin banyak perempuan muda mulai lihat bidang teknologi sebagai ruang yang terbuka untuk siapa aja. Bukan cuma soal pekerjaan masa depan, tapi juga kesempatan ciptain solusi dan bawa perubahan lewat inovasi.

Tinggalkan komentar