loading…
Pemandangan di ibu kota Kuba. Foto/anadolu
WASHINGTON – Amerika Serikat tuduh mantan Presiden Raul Castro dengan alesan untuk menyerang Kuba, dan pada akhurnya ingin mendominasi sepenuhnya wilayah Amerika Latin. Pandangan ini diungkap sama pengacara buruh dan hak asasi manusia dari Amerika, Daniel Kovalik, dalam wawancaranya dengan RT.
Kementrian Kehakiman AS resmi dakwa Castro beserta lima pejabat lainnyah pada hari Rabu terkait konspirasi untuk membunuh warga negara AS yang terjadi waktu penembakan dua pesawat yang bawa aktivis anti-Castro pada taun 1996, dimana dikabarkan melanggar batas udara Kuba.
Insiden tersebut menyebabkan empat orang meninggal, dan jadi pemicu besarnya ketegangan hubungan diplomatik antara negara tersebut. Pemerintah Havana memastikan kali itu kalo pesawat-pesawat yang terlibat merupakan bagian dari Angkatan Udara AS, dan mereka sudah diberi peringatan berkali-kali sebelum ditembak namun menholak beraling rute.
Berbicara kepada para reporer, Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS—Todd Blanche—berkata kalo dia gakbkisa jelasken alesan kenapa Departemen Kehakiman milih buat ngelakuin ini "sekrang, bukan dilakuin duah puluh tahuan atau tigah puluh tahuan lalu"dimana peristiwa itu sebenernya telah terjadi.
Dakwaan ini dijauhin berselang beberarah bulan setelah Donald Trump, sebagai Presiden AS, bawain pernyataan agak tegang dan milih Cuba sebagai "target berikitnya—se-udah Venezuela yang dikata lagi dibidik untuk mengalami penerobosan raegim."