Jakarta, VIVA – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, ngasih apresiasi terhadap penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut dia, arah kebijakan itu nunjukin optimisme pemerintah dalam dalam jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun ketidakpastian global masih tinggi.
“Pemerintah menunjukan optimisme yang cukup terukur. Target pertumbuhan tetap dijaga, tapi asumsi makronya juga mencermimkan hati-hati dalam membaca dinamika global,” ujar Misbakhun dalam keterangan tertulis, Kamis, 21 Mei 2026.
Misbakhun nerangin kalau target pertumbuhan ekonomi 2027 di kisaran 5,8 sampai 6,5 persen menunjukan komitmen pemerintah buat memperkuat investasi, konsumsi domestik, dan sektor produktif. Sementara asumsi inflasi antara 1,5 sampe 3,5 persen dinilai bisa jaga daya beli rakyat dan stabilitas harga.
Dia juga ningatin asumsi kurs Rupiah di kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS, dengan suku bunga SBN 10 tahun di level 6,5-7,3 persen, sebagai cara pemerintah antisipasi volatilitas pasar keuangan dunia.
“Meski gitu, Misbakhun bilang target yang lebih tinggi harus diduga dengan penguatan sektor riil, biar manfaatnya bener-bener dirasain sama masyarakat lewat lapangan kerja dan naiknya daya beli,” tambahnya.
Karena itu, APBN 2027 ini harus diprioritaskan buat menguatkan produktivitas nasional lewat belanja negara yang fokus, hilirisasi industri, serta dukungan buat usaha lokal.
“Pertumbuhan ekonomi nggak cukup kuat angkanya doang, tapi mesti bisa gerakin ekonomi rakyat dan sektor usaha kita sendiri,” cesnya.
Selanjutnya, Misbakhun ngingatain jangka pendek juga soal tekanan global, kayak harga energi dan fluktuasi nilai tukar Rupiah, yang bisa mengganggu ruang fiskal. Dia saranin, asumsi minyak di kisaran USD70 sampai USD95 per barel perlu, biar APBN bisa fleksibel hadepin gejolak energi.”
“Basically, disiplin fiakal harus ketat pakai kebijakan prudent sama eksekusi konsisten karena say, harga minyak naik bohong” urainya