Dua Anggota Tim Kampanye Presiden Tewas di Kolombia Jelang Pemilu

Kantor ombudsman hak-hak warga Kolombia memperingatkan bahwa kekerasan dapat menghambat “pelaksanaan hak-hak politik” menjelang pemilihan bulan Mei yang akan menggantikan Gustavo Petro.

Dua anggota staf kampanye presiden telah tewas di Kolombia hanya dua pekan menjelang negara Amerika Selatan ini melaksanakan pemungutan suara.

Pembunuhan tersebut diumumkan oleh calon presiden sayap kanan, Abelardo de la Espriella, yang mengatakan para pria bersenjata di atas sepeda motor menembak para korban di departemen Meta bagian tengah pada Jumat malam.

Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, de la Espriella menyatakan kedua staf itu “berjalan di jalanan membela demokrasi, kebebasan, dan harapan jutaan warga Kolombia yang lainnya.”

“Kejahatan mereka satu-satunya adalah percaya pada Tanah Air dan tidak mau bertekuk lutut di hadapan kekerasan,” imbuh kandidat tersebut.

Ombudsman hak-hak warga Kolombia mengidentifikasi korban tewas sebagai Rogers Mauricio Devia Escoba, mantan wali kota Cubarral, dan penasihatnya, Eder Fabian Cardona Lopez.

Kantor itu juga melaporkan adanya serangan lain terhadap mantan calon wali kota di wilayah yang sama, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Meskipun serangan-serangan ini masih dalam penyelidikan, ombudsman memperingatkan bahwa hal itu dapat mempengaruhi “pelaksanaan hak politik dan partisipasi demokratis” dalam pemilu mendatang pada 31 Mei.

“Kekerasan, ancaman, dan segala bentuk intimidasi merusak debat publik, memperdalam risiko bagi para pemimpin politik dan sosial, serta melemahkan koeksistensi demokratis,” kata kantor itu dalam sebuah pernyataan.

Meta telah lama menjadi benteng bagi kelompok pejuang pemberontak dan perdagangan kokain di negara tersebut. Kekerasan dan

Angka kejahatan yang melonjak telah menjadi isu utama dalam pilpres untuk menggantikan pemimpin sayap kiri pertama negara itu, Gustavo Petro.

MEMBACA  Sisi Gelap Kafe dan Restoran Mewah yang Bermunculan di Gaza | Konflik Israel-Palestina

Kandidat terdepan dalam pilpres, Senator sayap kiri Ivan Cepeda, telah berjanji untuk melanjutkan jalur yang ditempuh Petro, yang mengadvokasi solusi negosiasi untuk konflik bersenjata Kolombia.

Sebaliknya, de la Espriella membentuk dirinya menyerupai para pemimpin populis sayap kanan seperti Nayib Bukele dari El Salvador dan Javier Milei dari Argentina.

Jajak pendapat menunjukkan dia berada di posisi kedua dengan dukungan lebih dari 20 persen pemilih, diikuti oleh Senator Paloma Valencia yang berhaluan kanan-tengah.

Sementara itu, Cepeda memasuki putaran pertama pemungutan suara dengan dukungan antara 37 dan 40 persen. Sebanyak 14 kandidat telah terdaftar dalam pilpres hingga Maret lalu.

Setidaknya tiga kandidat melaporkan telah menerima ancaman pembunuhan. Semua kandida terdepan melakukan perjalanan dengan pengamanan ketat.

Tahun lalu, pasangan calon wakil presiden Cepeda, aktivis Pribumi dan senator negara bagian Aida Quilcue, sempat diculik sebentar oleh kelompok pemberontak yang memisahkan diri dari Angkiatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

Itu terjadi di antara faksi-faksi pembangkang yang menolak menandatangani kesepakatan tahun 2016 dengan pemerintah, yang berisi FARC

— yang dulu merupakan organisasi pemberontak sayap kiri terbesar — setuju untuk melucuti senjata.

Miguel Uribe, seorang senator dan calon presiden, juga ditembak saat sebuah rapat umum di Bogota pada Juni 2025. Dia meninggal akibat lukanya dua bulan kemudian, pada Agustus.

Tinggalkan komentar