Kesalahan File Gambar Tidak Ditemukan
Para pendiri Gen Z yang sedang mengejar kesuksesan besar kini menghadapi dilema modern: melindungi kesehatan mental atau mengorbankan keseimbangan hidup demi mencapai sukses.
Investor Shark Tank dan jutawan Kevin O’Leary punya saran jelas buat para pendiri muda soal cara menggunakan waktu mereka.
"Saran paling buruk yang sering saya dengar dari pendiri muda adalah mereka ingin kerja 18 jam sehari. Bodoh banget, kan?" kata O’Leary di video Instagram, pakai baju macan tutul merah dan celana bunga.
Peringatan ini datang saat pekerja biasa semakin dituntut untuk bekerja lebih lama. Jadwal 996—kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam, 6 hari seminggu yang dilarang di China tahun 2021—kini mulai dipuja di Silicon Valley. Startup AI Rilla tahun lalu bilang ke kandidat, jangan daftar kalau tidak siap kerja lebih dari 70 jam seminggu.
Tapi O’Leary bilang, kerja keras bukan berarti lupa jaga diri sendiri.
"Ide bahwa kamu tidak tidur, seolah bagus untuk investor, itu stupidity banget," katanya. Makan sehat, tidur cukup, dan olahraga adalah "cara kamu optimal," tambahnya.
O’Leary juga bilang, fokus anak muda sekarang harusnya ke AI. Katanya, kalau dia masih umur 20-an, dia akan full bantu bisnis kecil pakai tools AI atau kembangkan data center.
"Akan banyak orang yang mau pakai AI tapi gak tahu caranya, dan mereka bersedia bayar untuk mengatasi masalah itu," kata O’Leary.
Menemukan Keseimbangan dengan ‘Founder’s Mindset’
Saran O’Leary ini beda banget dari sikapnya dulu, yang selalu dorong para pendiri kerja keras sekuat tenaga.
"Kamu dapat uang atau kehilangan uang," tulisnya di X tahun 2024. "Kalau mau sukses di bisnis, kamu harus kerja 25 jam sehari karena ada kompetitor seluruh dunia yang lawan kamu."
O’Leary juga pernah bilang ke Fortune, dia cari "pola pikir pendiri" yang fokus pada apa yang harus diselesaikan dalam 18 jam ke depan. Sekarang, banyak pemimpin berusaha cari keseimbangan. Pendiri Insomnia Cookies dan CEO Virta Health bahkan ambil waktu libur untuk telepon atau pergi ke tempat remote.
CEO dan karyawan sering merasa ruwet karena harus siap sedia 24/7. Tapi "toxic productivity" bisa menyebabkan stress, insomnia, anxiety, depresi, dan risiko kesehatan fisik, kata Harvard.
"Kalau kamu datang kelihatan setengah mati, saya gak akan invest. Kamu bukan pahlawan, kamu liabilitas," tulis O’Leary.
Berita ini mula nerbit di Fortune.com tanggal 2 Februari 2026.
Lebih lanjut soal keseimbangan:
Work-life balance faktor top buat pencari pasar Scarlett johannesonis soal definisi kere s generasi boombelenteng katededeg percay ten menu past*“kerealans