Presiden Palestina Abbas Berjanji Akan Mengadakan Pemilu dan Reformasi dalam Konferensi Fatah

Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, telah dipilih kembali secara aklamasi sebagai pemimpin gerakan Fatah.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, berjanji akan mereformasi Otoritas Palestina (PA) pada konferensi partai Fatah di Tepi Barat yang diduduki, dengan berkomitmen untuk menyelenggarakan pemilihan presiden dan parlemen yang sudah lama tertunda.

Fatah menggelar Konferensi Umum Kedelapan yang berlangsung tiga hari di Ramallah pada Kamis lalu untuk memilih komite sentral baru, yakni badan kepemimpinan tertinggi mereka, untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Hal ini terjadi di tengah tantangan eksistensial pasca perang genosida Israel di Gaza.

Rekomendasi Artikel

“Kami memperbarui komitmen penuh untuk terus bekerja mengimplementasikan seluruh langkah reformasi yang kami janjikan,” ujar Abbas dalam pidatonya. Ia juga berjanji mengadakan pemilu baru, meski tanpa memberikan kerangka waktu pasti.

Pada Kamis malam, Abbas terpilih kembali secara aklamasi sebagai pemimpin gerakan Fatah, dan secara otomatis tetap menjabat sebagai kepala komite sentral, demikian dilaporkan kantor berita Palestina, Wafa. Fatah adalah partai utama dalam Otoritas Palestina.

Abbas dan Otoritas Palestina mendapat tekanan berat dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Arab untuk menerapkan reformasi dan menggelar pemilu. Tekanan ini muncul di tengah meluasnya tuduhan korupsi dan stagnasi politik, serta menurunnya legitimasi lembaga tersebut di mata rakyat Palestina.

Komite sentral Fatah diperkirakan akan memainkan peran kunci di era pasca-Abbas.

Tokoh-tokoh utama yang diprediksi akan menggantikan Abbass antara lain adalah Jibril Rajoub, sekretaris jenderal komite tersebut, dan wakil ketua PA, Hussein al-Sheikh.

Konferensi ini digelar saat gerakan nasional Palestina sedang menghadapi apa yang disebut sebagai “tantangan paling serius dalam perjuangan kami,” kata Rajoub kepada kantor berita AFP sebelum kongres dimulai.

MEMBACA  Perang AS-Israel terhadap Iran: Sejarah Singkat Misi yang Meluas dan Janji Palsu

Ia menyatakan harapan agar konferensi yang tertunda berkali-kali ini bisa berkontribusi dalam “memastikan dan melindungi pendirian negara Palestina pada agenda dunia, serta melindungi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai satu-satunya wakil sah rakyat Palestina.”

‘Menata Rumah Tangga Palestina’

Secara historis, Fatah merupakan komponen utama PLO yang mencakup sebagian besar faksi Palestina, namun tidak termasuk Hamas dan Jihad Islam.

Dalam beberapa dekade terakhir, popularitas dan pengaruh Fatah menyusut di tengah perpecahan internal dan meningkatnya frustrasi publik atas stagnasi proses perdamaian Israel-Palestina.

Hal ini mendorong lonjakan dukungan bagi rivalnya, Hamas, yang memenangkan pemilu legislatif 2006 di Tepi Barat yang diduduki. Tak lama kemudian, Hamas mengusir Fatah dari Gaza setelah serangkaian pertempuran antarfaksi.

PA yang mencakup Fatah selama ini dipromosikan pihak asing sebagai mitra alami dalam membangun kembali dan mengelola Gaza pasca perang antara Israel-Hamas di daerah kantong tersebut—kendati Israel sangat menolak gagasan itu.

Rajoub menegaskan bahwa konferensi pekan ini merupakan langkah awal menuju “penataan rumah tangga Palestina untuk membangun mitra demi mendirikan negara [Palestina].”

Sekitar 2.580 anggota Fatah mengadiri konferensi ini; kurang lebih 1.600 orang di Ramallah, 400 di Gaza dan Kairo, serta 200 di Beirut.

Para peserta dijadwalkan memilih 18 perwakilan komite sentral dan 80 orang untuk parlemen gerakannya yang dikenal sebagai dewan revolusioner.

Meskipun sering menyatakan berkerja sebagai “front bersatu,” sejumlah tokoh penting tak hadir dalam konferensi Kamis lalu, terutama Nasser al-Qudwa, keponakan mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat. Al-Qudwa mengatakan ia memboikot pertemuan itu dan menilanya sebagai hal yang “tidak sah.”

Sementara itu, putra tertua presiden, Yasser Abbas, masuk dalam daftar calon anggota komite sentral setelah pamornya naik akhir-akhir ini karena ditunjuk sebagai wakil khusus presiden—padahal sebagian besar waktunya dihabiskan di Kanada.

MEMBACA  Rumania memesan penghitungan ulang pemilihan setelah dugaan bias TikTok

Tinggalkan komentar