Dua masalah yang sejak lama menghambat pengendalian TB di Indonesia: lingkungan tempat tinggal yang terus mendukung penularan, dan durasi pengobatan yang terlalu panjang.
Jakarta (ANTARA) – Bakteri penyebab tuberkulosis bisa bertahan berbulan-bulan di ruangan lembab, kurang ventilasi, dan minim sinar matahari.
Penelitian kesehatan lingkungan menunjukkan bahwa bakteri penyebab TB menjadi tidak aktif dengan cepat saat terkena sinar ultraviolet langsung dalam waktu 15 hingga 30 menit.
Namun, kebalikannya terjadi di banyak rumah padat yang kekurangan jendela dan sirkulasi udara. Ruangan gelap dan berventilasi buruk menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk bertahan dan meningkatkan risiko penularan.
Selama bertahun-tahun, penanganan TB di Indonesia lebih fokus pada pengobatan pasien, sementara kondisi rumah mereka jarang menjadi prioritas.
Padahal, banyak pasien yang dinyatakan sembuh akhirnya kembali ke lingkungan yang sama seperti saat pertama kali terinfeksi: ruangan sempit, padat, dan hampir tanpa sinar matahari.
Dalam hal ini, pemerintah Indonesia mulai mengambil pendekatan yang berbeda.
Data dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) menunjukkan bahwa lebih dari 241.000 kasus TB terdeteksi hingga awal Mei 2026.
Angka ini menyusul perluasan skrining aktif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) nasional, pelacakan kontak erat, dan pelaporan terintegrasi melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
Menurut Laporan Tuberkulosis Global 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia, setelah India.
Di balik angka kasus yang tinggi, negara telah menggeser fokus ke dua kebijakan utama: memperbaiki kondisi tempat tinggal pasien dan merombak pengobatan untuk TB resistan obat (DR-TB) yang terkenal lebih lama dan sulit ditangani.
Melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perumahan dan Permukiman, pemerintah menargetkan renovasi 2.000 rumah untuk pasien TB sepanjang 2026, dengan rencana memperluas program ke 10.000 unit pada 2027. Inisiatif ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah dalam Desil 1 hingga 4 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Rumah-rumah sasaran umumnya berada di daerah padat penduduk dengan ventilasi buruk dan pencahayaan alami yang tidak memadai. Dalam banyak kasus, beberapa keluarga tinggal serumah dengan kamar kecil dan jendela yang kurang, sehingga meningkatkan risiko infeksi.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menilai bahwa perang melawan TB tidak akan pernah benar-benar berakhir jika pasien kembali ke rumah yang masih menjadi sumber infeksi setelah pengobatan. Oleh karena itu, renovasi rumah dimulai dianggap pilar utama pengendalian penyakit, bukan sekadar bantuan sosial perumahan.
Standar kesehatan lingkungan yang ditetapkan sebenarnya cukup sederhana: ventilasi ideal harus mencakup setidaknya 10 persen luas lantai, pencahayaan alami minimal 60 lux, dan hunian tidak boleh melebihi dua orang per kamar seluas minimal delapan meter persegi.
Namun, standar ini jarang terpenuhi di banyak daerah perkotaan padat—seperti Jakarta Utara, Bekasi, dan Tangerang—yang sejak lama berjuang dengan beban kasus TB yang tinggi.
Pendekatan ini menandai perubahan dalam kebijakan penanganan TB nasional. Penyakit yang lama dianggap masalah kesehatan kini diperlakukan sebagai isu kesehatan lingkungan dan kualitas perumahan.
Metode pengobatan
Pergeseran kedua terlihat pada pengobatan DR-TB. Selama bertahun-tahun, pasien harus menjalani pengobatan selama 18 hingga 24 bulan dengan volume obat tinggi dan efek samping berat.
Sepanjang terapi, pasien sering melaporkan gejala seperti mual, kelelhan, dan mati rasa, serta tekanan psikologis yang signifikan.
Dalam evaluasi program nasional, kondisi ini menjelaskan mengapa banyak pasien memilih tidak menyelesaikan pengobatan jika mereka merasa sudah enakan. Data riset menunjukkan около 26 persen pasien gagal menyelesaikan terapi penuh. Dia skig untuk penelitian data lanjut.
Pemerintah mulai memperluas penggunaan rejimen baru…</dan setelah ini? , cape membaca.
Bagus masih ada PR untuk selesaikan.