Meksiko dan CIA Tepis Laporan soal Kampanye Pembunuhan AS terhadap Kartel | Berita Narkoba

Bantahan muncul setelah laporan media AS menyebut bahwa CIA ‘secara langsung berpartisipasi’ dalam operasi anti-kartel yang mematikan.

Pemerintah Meksiko dan CIA membantah laporan yang mengklaim bahwa agen intelijen AS telah berpartisipasi dalam pembunuhan target dugaan anggota kartel narkoba di negara Amerika Latin tersebut.

Penyangkalan pada Selasa itu muncul setelah CNN melaporkan bahwa CIA telah terlibat secara mendalam dalam operasi mematikan yang bertujuan membongkar kartel narkoba Meksiko.

Rekomendasi Cerita

  • Item satu
  • Item dua
  • Item tiga
  • Item empat

Operatif CIA telah “secara langsung berpartisipasi” dalam beberapa serangan terhadap sindikat perdagangan narkoba sejak tahun lalu, termasuk ledakan mobil pada bulan Maret yang menewaskan Francisco Beltran, seorang dugaan anggota Kartel Sinaloa, demikian lapor CNN dengan mengutip sejumlah sumber anonim.

Operasi-operasi tersebut sebagian besar menarget anggota kartel tingkat menengah, dengan keterlibatan CIA mulai dari “berbagi intelijen secara pasif” hingga “partisipasi langsng dalam operasi pembunuhan”, lapor CNN.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, juru bicara CIA Liz Lyons mengatakan laporan CNN itu “palsu dan sensasional” serta “tak lebih dari kampanye humas bagi para kartel yang membahayakan nyawa warga Amerika”.

Sekretaris Keamanan Meksiko Omar Garcia Harfuch juga menantang laporan tersebut, menyebut bahwa pemerintah “secara kategoris menolak versi apapun yang berupaya menormalisir, membenarkan, atau mensugestikan adanya operasi mematikan, rahasia, atau sepihak oleh badan asing di wilayah nasional”.

“Kerja sama dengan Amerika Serikat ada, penting, dan telah memberikan hasil nyata bagi kedua negara,” ujar Harfuch dalam sebuah unggahan di X.

“Namun, itu dilakukan di bawah prinsip-prinsip jelas: penghormamtuan terhadap kedaulatan, tanggung jawab bersama, saling percaya, dan kerja sama tanpa subordinasi.”

CNN tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait bantahan pemerintah Meksiko dan CIA tersebut.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menargetkan geng perdagangan narkoba Amerika Latin dalam kampanye agresif yang menurut para kritikus telah melampaui batas legal dan norma kepresidenan.

Administrasi Trump telah menetapkan sembilan geng narkoba berbasis di Amerika Latin sebagai organisasi “teroris”, termasuk Kartel Sinaloa, La Nueva Familia Michoacana, dan Carteles Unidos milik Meksiko, serta meluncurkan puluhan serangan udara terhadap perahu yang diduga membawa narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik, yang menewaskan lebih dari 190 orang.

Dorongan anti-narkoba Trump menjadi sumber gesekan dengan Meksiko, yang oleh pejabat AS disebut sebagai jalur transit utama bagi sebagian besar aliran gelap fentanil, kokain, heroin, dan metamfetamin ke negara tersebut.

Bulan lalu, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengancam akan menjatuhkan sanksi bagi otoritas di negara bagian perbatasan Chihuahua karena mengizinkan personel CIA berpartisipasi dalam penggerebekan laboratorium narkoba klandestin.

Sheinbaum menyatakan bahwa dia dan anggota senior pemerintahannya lainnya taidak diinformasikan tentang keterlibatan AS dalam operasi tersebut, yang terungkap setelah dua warga Amerika yang dilaporkan bekerja untuk CIA tewas dalam sebuah kecelakaan mobil setelah penggerebekan anti-narkoba.

Di bawah undang-undang yang disahkan Kongres Meksiko pada tahun 2020, agen asing yang beroperasi di negara tersebut diwajibkan berbagi informasi dengan pemerintah dan tidak menikmati kekebalan diplomatik.

MEMBACA  Kabar Bahagia untuk Para Traveler Muslim!Pelayaran Ramah Muslim Pertama Akan Berlayar dari Malaysia November Ini

Tinggalkan komentar