Latihan militer bersama selama dua minggu ini digelar kurang dari tiga dekade setelah NATO membom Belgrade dalam perang Kosovo.
Serbia dan NATO memulai latihan militer gabungan pertama mereka, sebuah kerja sama bersejarah antara negara Balkan dan aliansi yang membom ibukotanya kurang dari 30 tahun silam.
Latihan yang berlangsung sejak Selasa hingga 23 Mei ini melibatkan sekitar 600 prajurit dari Serbia, Italia, Romania, dan Turki. Para perencana militer serta pengamat dari Perancis, Jerman, Italia, Montenegro, Romania, Serbia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat juga turut berpartisipasi.
Foto-foto yang dirilis Selasa lalu memperlihatkan prajurit Serbia dan NATO berdiri berdampingan di lapangan latihan dekat Bujanovac, Serbia selatan, lengkap dengan kendaraan lapis baja kedua pihak.
"Kerja sama ini bertujuan menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan," ujar Kementerian Pertahanan Serbia.
"Perencanaan latihan ini menjadi bagian penting dari upaya bersama. Baik NATO maupun Angkatan Bersenjata Serbia memiliki rekam jejak panjang dalam perencanaan latihan internasional besar, sehingga tim bisa berkolaborasi dan berjalan mulus, berbagi gagasan serta pengalaman," kata Komandan AL Inggris Ian Kewley dalam rilis pers.
Latihan taktis ini berada di bawah program Kemitraan untuk Perdamaian NATO, yang telah diikuti Serbia selama hampir 20 tahun. Negeri itu rutin berlatih bersama anggota NATO, meski ini pertama kalinya digelar langsung dengan aliansi.
Isu Sensitif
NATO tetap menjadi isu sensitif di Serbia menyusul kampanye udara aliansi itu terhadap Yugoslavia pada 1999, selama perang Kosovo. Pasukan penjaga perdamaian pimpinan NATO ditempatkan di Kosovo sejak perang 1999 berakhir, dan Serbia tak pernah mengakui deklarasi kemerdekaan provinsi bekas wilayahnya itu.
Serbia adalah salah satu dari sedikit negara Balkan yang tak bergabung dengan aliansi, mempertahankan kebijakan netralitas sambil menjaga hubngan erat dengan NATO dan Rusia. Selama sepuluh tahun terakhir, Serbia secara signifikan meningkatkan kemampuan militernya, membeli senjata dari negara anggota NATO serta dari Rusia dan China.
Seorang pejabat NATO mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa latihan ini dilakukan “dengan penuh penghormatan terhadap kebijakan netralitas militer Serbia yang dicanangkan”.