Loading…
Dr. Ressa Uli Patrissia, Pemerhati Komunikasi dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto/Dok. SindoNews
**Dr. Ressa Uli Patrissia**
Pemerhati Komunikasi dan Teknologi
Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Pagi hari di Jakarta, tahun 2026. Sebelum kopi diminum, sebelum mata bener-bener kebuka, sebuah getaran halus di pergelangan tangan udah ngasih tahu vonis: “Skor tidur km 62. Stres tinggi terdeteksi. Mulai latihan pernapasan?”
Pemandangan ini bukan hal yang aneh lagi. Dari Garmin Fenix 8 Pro di tangan eksekutif Sudirman, Apple Watch Series 11 di pergelangan kreator konten, sampe Redmi Watch 5 di tangan mahasiswa Depok dan Vivan VWF18 seharga dua ratus ribuan di tangan pengemudi ojek online—jam tangan pintar udah jadi pemandangan biasa di Indonesia saat ini.
Pasar smartwatch di tanah air tahun ini didorong oleh narasi kesehatan: deteksi dini risiko diabetes pada Huawei Watch FIT 5 Pro yang baru rilis di Indonesia, fitur EKG bersertifikasi, monitoring stres berdasarkan HRV, pelacakan suasana hati, sampe jurnal singkat yang terintegrasi di pergelangan.
Diskusi publik tentang alat ini biasanya cuma sampe ulasan konsumen: baterai tahan berapa hari, fitur baru apa aja, harga terjangkau nggak. Tapi smartwatch bukan sekadar gadget. Ia adalah peristiwa filsafat. Ia mengubah cara kita “ada”, cara kita “punya tubuh”, dan cara kita berhubungan dengan teknologi itu sendiri. Tiga filsuf—Martin Heidegger, Maurice Merleau-Ponty, dan Gilbert Simondon—ngebantu kita liat apa yang lagi terjadi di pergelangan kita.
**Waktu Tubuh Jadi “Persediaan Masalah”**
Dalam *Die Frage nach der Technik*, Heidegger nolak pandangan bahwa teknologi itu alat netral yang baik atau buruk tergantung pemakainya. Buat Heidegger, teknologi modern adalah cara buat nyingkap dunia—sebuah *Gestell* (bongkahan atau bingkai) yang bikin semuanya kelihatan sebagai *Bestand*: cadangan, persediaan, sunber daya yang siap dikelola dan dioptimalkan. Sungai dilihat sebagai potensi listrik. Hutan sebagai stok kayu. Manusa sebagai “sumber daya manusia”.
Smartwatch ngelakuin hal yang mirip ke tubuh. Di pergelangan tangan, jantung nggak cuma berdetak; ia menghasilkan grafik HRV. Tidur bukan sekedar tidur; ia berubah jadi “skor tidur” dengan persentase REM dan deep sleep. Napas bukan sekedar napas; ia jadi bahan yang dilatih lewat guided breathing. Tubuh, dalam kerangka ini, adalah *Bestand*—gudang data biometrik yang wajib terus dipantau, diukur, dan dioptimalkan biar to reduce ge “kurangi” kerugian bukan diambil masalah.
Bahaya hasil menurut H idd ini ket untuk ub bagi negara. elwenger bukan teknologinya e sendiri of itu sumber maknsias lainnya