Tidak Ada Penyebaran Hantavirus pada Manusia di Indonesia Sejak 1991

Jakarta (ANTARA) – Indonesia mencatat tidak ada transmisi hantavirus dari hewan pengerat ke manusia sejak 1991, kata Kementerian Kesehatan, membedakan strain lokal dengan kasus baru di kapal pesiar yang melibatkan tipe virus berbeda.

Plt. Kepala Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, mengatakan kasus di MV Hondius adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), berbeda dengan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang ada di Indonesia.

“HPS biasa ditemukan di Amerika Selatan dan tidak pernah dilaporkan di Indonesia,” katanya pada Senin.

Dia mengatakan kasus di Indonesia melibatkan strain virus Seoul dari HFRS, yang sudah teridentifikasi sejak 1991.

Saguni mengatakan HPS di kapal pesiar disebabkan oleh virus Andes, yang beberapa studi menunjukan bisa menyebar antar manusia melalui kontak dekat dan lama.

Dia menambahkan belum ada bukti penularan dari manusia ke manusia untuk strain HFRS yang ditemukan di Asia, termasuk Indonesia.

Resiko trasmisi dikaitkan dengan kontak dengan hewan pengerat melalui gigitan, air seni, tinja, atau debu yang terkotaminasi.

Berita terkait: (cek link)

Kelompok berisiko tinggi termasuk pemulung, petani, pekerja di banguna tua, zona banjir, dan orang yang melakukan aktivitas luar ruangan seperti berkemah.

Secara global, kasus hantavirus terjadi di Eropa, Amerika, dan Asia. Indonesia mencatat 23 kasus HFRS dari 2024 hingga 2026, tanpa ada kasus HPS.

Dia mengatakan studi mendeteksi hantavirus pada banyak hewan pengerat di 29 provinsi, berdasarkan hasil penelitain Rikhus Vektora.

Otoritas Inggris melaporkan klaster Severe Acute Respiratory Illness di kapal MV Hondius berbendera Belanda pada 2 Mei 2026.

Per 10 Mei, delapan kasus dilaporkan—enam dikonfirmasi dan dua probable—dengan tiga kematian, atau tingkat kematian 37,5 persen.

MEMBACA  Pasar Tenaga Kerja Mendingin, Saat Tepat Investasi pada Karyawan.

Kapal itu membawa 149 orang dari 23 negara, tanpa ada warga negara Indonesia di dalamnya.

Kemenkes juga menerima laporan adanya kontak erat di Jakarta Pusat yang terhubung dengan satu penumpang yang meninggal.

Hasil tes PCR untuk satu warga negara asing laki-laki berusia 60 tahun tersebut negatif.

Saguni mengatakan pasien masih dalam pemantauan ketat di RSUP Sulianti Saroso.

Berita terkait: (cek link)

Penerjemah: Lintang Budiyanti P, Resinta Sulistiyandari
Editor: Rahmad Nasution
Hak cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar