Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia, laporkan hari Minggu bahwa laba kuartal pertamanya naik 25% dibanding tahun lalu. Ini terjadi karena mereka ningkatin ekspor pake pipa yang menghindari Selat Hormuz, yang lagi terganggu sama perang Iran.
Aramco, atau nama resminya Saudi Arabian Oil Co., untung $32,5 miliar untuk kuartal yang berakhir 31 Maret. Perusahaan milik negara ini sebelumnya lapor kalo laba tahunan di 2025 turun 12%.
“Kinerja kuartal pertama Aramco nunjukin ketahanan dan fleksibilitas operasional di lingkungan geopolitik yang rumit,” kata Presiden dan CEO Aramco, Amin H. Nasser, dalam pernyataannya. Dia juga bilang kalo pipa East-West yang ngelintasi Arab Saudi dari ladang minyak timur ke Laut Merah sekarang beroperasi di kapasitas maksimal 7 juta barel per hari. Pipa ini, kata Nasser, “membantu kurangi dampak goncangan energi global dan kasih keringanan ke pelanggan.”
Tapi, pipa ini gak bisa gantiin kapasitas yang ilang gara-gara ganggunan pengiriman di Selat Hormuz. Sebelum perang, 20% dari minyak dunia yang diperdagangkan biasanya ngelwatin selat ini tiap hari, plus gas alam, pupuk, dan produk minyak lainnya.
Iran ngambil alih Selat Hormuz setelah AS dan Israel nyerang pada 28 Februari, dan blokade laut AS yang diterapin bulan lalu juga bikin situasi makin ruwet.
“Kejadian belakangan ini jelas nunjukin betapa pentingnya minyak dan gas untuk keamanan energi dan ekonomi global, serta jadi pengingat bahwa pasokan energi yang handal itu kritis,” kata Nasser. “Meski ada masalah, Aramco tetep fokus pada prioritas strategisnya dan manfaatin infrastruktur domestik dan jaringan global untuk hadapi ganggunan.”