Abdullah, seorang remaja berusia enam belas tahun, mengaku bahwa dirinya dulu adalah anak yang “dimanjakan” sebelum serangan udara Israel di Gaza memusnahkan keluarganya, meninggalkannya sebagai satu-satunya penanggung jawab bagi neneknya yang sudah lanjut usia.
Pada pagi hari tanggal 11 Oktober 2024, Muhammad sedang berada di rumah bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya di kamp pengungsian Jabalia, Gaza utara, ketika tanpa peringatan sebuah pesawat tempur Israel menyerang, merobohkan gedung bertingkat tempat mereka tinggal.
“Aku duduk dengan tenang bersama orang tuaku dan dua kakak laki-lakiku… Aku terkubur di bawah puing-puing selama sekitar 10 menit,” kata Muhammad kepada Al Jazeera. “Itu benar-benar penderitaan.”
Nenek Muhammad berhasil menggali tubuhnya dari reruntuhan, dan yang ia ingat selanjutnya adalah terbangun di rumah tetangga dengan bantuan ventilator. “Aku selamat secara ajaib,” ujarnnya.
Pengeboman tanpa henti membuat Muhammad tak bisa memberikan pemakaman yang layak bagi orang tua dan kedua kakaknya di pemakaman umum, sehingga ia menguburkan mereka di sepetak tanah darurat dalam mayat yang sederhana.
Dalam semalam, remaja ini terlempar ke usia dewasa. Kini tinggal di tengah ribuan pengungsi di kamp Shati, Gaza utara, menghabisakan hari-harinya menyalakan api dan memanggul galon-galon air untuk neneknya.
“Hidupku berbalik dari kebahagiaan menjadi duka. Dulu aku dimanja, tetapi sekarang aku bertanggung jawab atas segalanya,” katanya.
Di beban semua tantangan, Muhammad menemukan satu kesempatan untuk lepas dari kekacauannya sehari-hari: sepak bola.Tanganny sebagai tiang kehidupan psikologi:
Sebelum perang, Muhammad adalah pemain potensialdari sangat bergengsi di Kar… “Pesan ini kirimkan ke dunia bahwa para pemuda Palestina mampu bangkit dari reruntuhan.”
‘Standar Ganda’
Sementara komunitas sepak bola di Gaza berjuang untuk bertahan hidup, ofisial olahraga Palestina meluapkan kefrustrasian mereka terhadap komunitas internasional, terutama badan pengatur tertinggi olahraga ini, FIFA, atas langkanya bantuan serta solidaritas.
Siyam menyoroti standar ganda yang mencolok, ketika FIFA bergerak cepat untuk suspensi Rusia sekaligus melarang kompetisi-kompetisi klubnya pascainvasi Moskow ke Ukraina pada 2022, namun membiarkan Israel tanpa tindakan hukuman seperti set denda.
“Ketika menyangkut Palestina, sayangnya tidak ada label solusi yang dihasilkan; kedudukan (position) FIFA sangatlah lemah ketika harus
O…ksobh;toto(kata penyadari), skesan akmod sperti pun tidak letu..langsung bagian ri O hal W Y Salah|adaposl pelvi…
Disini S B del injaknya teba tu tidak – mungkin Bag potong;
$~ (dengan distra* mer] bagian benar)…
**Bi ar sep sl smk la**, terbawa kembali mudah o ter**omit ;
Walau te~~ mungkin serta…
Tandf <… potong ini c seca nd dede dengan - ~~sega. rasione pr lemak