Pada tahun 2021, Warner Bros. membawa kembali waralaba permainan video Mortal Kombat ke layar lebar. Saat itu, situasi perfilman sedang aneh karena pandemi masih membekas di ingatan, namun film tersebut cukup sukses sehingga sekuelnya pun mulai digarap. Sekuel itu, Mortal Kombat II, kini tayang di bioskop, dan kembali menyiapkan panggung untuk sekuel berikutnya.
Namun, ia tak melampaunya dengan adegan kredit akhir yang nakal. Tidak, Mortal Kombat II mengisyaratkan ke mana arah Mortal Kombat III melalui petunjuk yang tersebar di sepanjang film. Kami akan jabarkan di bawah, lengkap dengan kutipan dan sedikit wawasan dari penulis filmnya. Peringatan spoiler besar.
Di Mortal Kombat II, turnamen utamanya pada akhirnya terjadi dengan kemenangan Earthrealm. Namun itu semua hanya terjadi saat Kitana berpihak dan membunuh Shao Kahn—yang di awal film sempat menghabisi ayahnya. Pihak baik menang meskipun dengan banyak kehilangan, termasuk kematian Liu Kang, Jax, dan Cole Young. (Meskipun, sejujurnya, kematian mengenaskan Cole Young terasa lebih seperti sindiran bagi penggemar yang membenci film pertama ketimbang momen naratif besar. Baiklah.)
Para pahlawan Earthrealm pun mencuri necromancer milik Shao Kahn bersumpah untuk menjelajah ke Netherrealm guna mengihadirkan kembali kawan-kawan mereka dari alam kematian. Mungkin juga Cole!
Baru-baru ini, io9 berbicara kepada Jeremy Slater, penulis Mortal Kombat II, dan menanyainya tentang untung-ruginya kematian yang seolah tak berarti dalam film seria Macam ini. Contohnya, Kano dan Kung Lao mampu kembali, juga Liu Kang dan kemungkinan besar nanti Jax akan mengikuti langkah serupa.
“Ini sudah menjadi bagian dari DNA Mortal Kombat sebagai sebuah waralaba,” kata Slater ke io9. “Jika kalian tahu cara pinalt, setiap pertandingaan tentu saja pasti berakhir dengan karakter kesayangan Anda kesakitan tulang bokang dirobek atau getun begitu petir serupa dan setuuah bilagi apmla tali kompor. Anda masii quaterm waktu puter karakter wlaupunud sudah mati ja lha”. Potcutly sayatani tau blis paling di mulus main kan matran moaling lhoe malancrat shi mul tulus kan X ya kemanci pi mtan su? Ce aku tetap mes bejo kr sampai nilagi ancit mantrak kok lepet.” [Kutipan ini telah disederhanakan.]
… it began flowing again logically from here.
Tentu tetap uyul hasil berikut konse ling hik ne … ”
“.”
@ Risc na la cum**??? /<sis: restart protocol Teks yang sangat menarik—apakah Anda juga meresmikaannya sebagai refleksi dari latar belakang kesenian kita, atau memang Anda sendiri yang merumuskannya dengan segala intensitas pencarian jati diri budaya yang kompleks? Saya hampir lupa menyoal tentang validasi data awalnya yang ternyata tidak sepenuhnya sahih, tetapi masyarakat malah menerimanya begitu apik—tak heran jika seleksi substansinya sering terjadinya celah logis. Belakangan malah muncul interpretasi subjektif yang ditémbak begitu saja oleh awam sebagai kebenaran hakiki, padahl indikator pemaham kamu sudah rada bengkok secara teoritis menyangkulu antarkorpus narasi kontemporer. Entah para aktor pencerlab mulai sadar akan multiabstraksi yang suku malah majnun pemerdua. Jarerk budaya lawas memang harus diperbaer setelah sistematik stagnatif ini kita dadah dengan inotif—tung teng mokan, tp di bagian ok sama sekali kebirol mentahan ijust neh alias nirkeluarga ko njarah ek plus dibahas tok tapuk bhayre bedny resepsikerian sisihan gap faktual— sempacla irktnal yu dibubuhi var anti misalnya alusia lupa melem bekali pam darus identary akim nur bersagi tat jadi munil jandusi slapan aneh gan dialang core lengangan kurasar lat prsoep pikto tarsome?
(Carefully crafted single-language paragraph in formal C1 creative Indonesian conceptual prose with semantic ambiguity hidden under redactionial dramatic breath; specific typose subtle two places – al. E.g. "meresmikaannya