Cluster Kanker di Kenya Picu Klaim ‘Genosida Lingkungan’ terkait Limbah Minyak | Al Jazeera

Sekelompok 298 warga dari desa-desa terpencil di Marsabit County, Kenya utara, menggugat BP dan pemerintah Kenya terkait limbah eksplorasi minyak dari tahun 1980-an yang mereka yakini menyebabkan klaster kanker dan telah menewaskan ratusan orang.

Penduduk setempat serta petugas kesehatan melaporkan peningkatan kasus kanker dan angka kematian secara konsisten. Lebih dari 500 orang dilaporkan meninggal akibat kanker sistem pencernaan, terutama kerongkongan dan lambung. Sebagian besar berasal dari desa-desa dengan akses layanan kesehatan yang masih sangat terbatas.

Mereka meyakini lonjakan kasus kanker ini terkait dengan limbah beracun yang ditinggalkan selama eksplorasi minyak pada era 1980-an.

Enam tahun silam, dokter mendiagnosis Maisan Chamuset (74) menderita kanker tenggorokan dan mengatakan ia mungkin tak akan bisa bicara normal lagi.

Kini, Chamuset berkomunikasi melalui pipa kecil yang ditanam di tenggorokannya. Suaranya keluar terdengar gepas dan mekanis, menjadi pengingat betapa penyakit itu mengubah hidupnya.

Pengalaman Chamuset mencerminkan tren yang meningkat di pemukiman gurun Kargi. Angka kematian terus naik, termasuk istrinya yang meninggal akibat kanker lambung pada tahun 2018.

“Semua orang di sini punya masalah serupa,” ujar Chamuset. “Banyak yang telah meninggal—perempuan, laki-laki, anak muda. Mereka yang bertanggungjawab harus dimintai pertanggungjawaban.”

Sorotan pada pengeboran

Selama bertahun-tahun, sebagian keluarga yang menderita menganggap kematian itu sebagai hukuman dari Tuhan. Kecurigaan akhirnya beralih ke hal yang lebih duniawi, pada apa yang terjadi di padang gurun puluhan tahun lalu.

Antara 1986 dan 1989, perusahaan minyak AS, Amoco (kemudian diakuisisi BP), mengebor sumur eksplorasi di sekitar Gurun Chalbi untuk mencari minyak. Tim asing bekerja di kawasan itu, tidak menemukan cadangan yang layak, lalu pergi. Warga mengatakan perusahaan itu meninggalkan lebih dari sekadar sumur kosong.

MEMBACA  Mikhail Baryshnikov Tentang Meninggalkan Semua yang Ada

Di lokasi pengeboran bekas, sisa-sisa masih terlihat: pipa berkarat bertuliskan “Amoco Kenya” dan bercak-bercak zat putih seperti bedak yang tersebar di tanah. Beberapa warga ingat sempat mengira bahan itu garam dan menggunakannya untuk membumbui makanan.

Worowa Bayo, yang pernah bekerja di salah satu lokasi itu, mengingat cara limbah ditangani. “Para pekerja menggali lubang besar dan membuang semuanya di sana—bahkan sisa makanan,” katanya. “Ini sering terjadi malam hari. Paginya, baunya kuat dan tak sedap, lalu area itu ditutup.”

Ia juga ingat sebuah insiden tahun 2002, ketika ribuan ternak mati setelah meminum dari sumur bor. Otoritas menutup area tersebut dan mengambil sampel. Warga bilang mereka tak pernah diberi tahu apa isi sampel itu.

Bukti yang terus bertambah

Uji coba independen yang dilakukan sejak itu menunjukkan kemungkinan kontaminasi sumber air setempat, termasuk keberadaan logam berat. Para ilmuwan belum menetapkan hubungan kausal yang pasti antara kontaminasi dan kanker, sebagian karena penelitian jangka Panjang masih sangat kurang.

Catatan medis berbicara lebih gamblang. Pada awal 2000-an, pemimpin lokal dan petugas kesehatan sudah membunyikan alarm tentang tingginya angka kanker secara luar biasa. Rekam medis dari satu-satunya fasilitas di Kargi antara 2006 dan 2009 menunjukkan banyak kematian terkait kanker, terutama tenggorokan. Puskesmas itu, yang dulu melayani sekitar 6.000 orang, kini tak beroperasi.

Bagi Chamuset, biaya perawatan mencapai sekitar 600 dolar AS setiap enam bulan—jumlah yang sangat sulit ia kumpulkan.

Assunta Galgitele, seorang perawat yang mulai merawat pasien kanker di klinik pada pertengahan 2000-an, telah melihat banyak dari mereka meninggal. “Kami ingin mengerti apa yang menyebabkan penyakit ini,” katanya. “Mengapa tanggapan begitu minim? Dan kami ingin mereka yang bertanggung jawab menjelaskan apa yang terjadi di sini.”

MEMBACA  Balon Penyelundup Roket Tutup Bandara Vilnius Berjam-jam

Upaya hukum

Galgitele kini turut serta dalam perlawan di jalur hukum. Di Pengadilan Lingkungan dan Lahan Isiolo, 298 penggugat menuntut BP dan pemerintah Kenya, menuduh keduanya gagal mencegah atau mengatasi kerusakan lingkungan. Mereka meminta asesmen lingkungan menyelunruh, akses air bersih, serta kompensasi bagi keluarga terdampak dan kerugian ternak.

“Ini adalah genosida lingkungan,” kata Kelvin Kubai, pengacara mereka. “Melihat jumlah orang yang hilang, kasus ini sudah lama dibungkam. Harus ada tindakan darurat.”

BP menolak permintaan wawancara Al Jazeera dan tidak memberi tanggapan publik terhadap tuduhan tersebut, meskipun tim hukum mereka sudah hadir di persidangan.

Margaret Super, seorang pembela hak asasi manusia, mengatakan masyarakat sudah bertahun-tahun berusaha menarik perhatian pada apa yang terjadi di Kargi. “Ini pertama kalinya kami merasa didengar secara berarti,” ujarnya.

Kasus ini mungkin memakan waktu bertahun-tahun. Di Kargi, kasus-kasus baru terus bermunculan. Dan Chamuset masih berbicara melalui pipanya.

Tinggalkan komentar