Rusia dan Ukraina kini saling melontarkan ancaman dan melancarkan serangan menjelang perayaan Hari Kemenangan 9 Mei di Moskow, menimbulkan kecemasan lebih lanjut akan potensi kekerasan di akhir pekan di kedua ibu kota.
Moskow telah mengumumkan akan memperkecil skala parade, mengakui kekhawatirannya terhadap serangan jarak jauh Ukraina. Kementerian luar negeri Rusia mendesak para diplomat asing untuk meninggalkan ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan peringatan pada Rabu malam bahwa “serangan balasan” akan “tak terelakkan” jika Kyiv mengacaukan parade—sebuah kemungkinan yang tampaknya disinggung oleh Presiden Volodymyr Zelensky dalam serangkaian pernyataannya.
Pada Kamis, kementerian tersebut mengulangi imbauan itu dan mengatakan bahwa kedutaan besar harus “menanggapi dengan sangat serius” rekomendasinya “untuk meninggalkan Kyiv tepat waktu.” Juru bicara Kremlin, Dmitri S. Peskov, mengatakan bahwa langkah keamanan yang diperketat untuk perayaan Hari Kemenangan telah memperhitungkan “ancaman dari rezim Kyiv.”
Eskalasi retorika seputar parade—yang memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman ini terjadi saat perang di Ukraina terus berlangsung tanpa henti memasuki tahun kelima. Serangan mematikan Rusia menghantam kota-kota Ukraina; pertempuran berkecamuk di garis depan; dan Ukraina terus melancarkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia.
Kampanye serangan mendalam itu telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir dan dianggap sebagai pendorong di balik keputusan Rusia bahwa parade Hari Kemenangan di Moskow—yang sejak lama menjadi ajang unjuk kekuatan dan kemegahan tahunan—akan digelar tanpa peralatan militer berat. Presiden Vladimir V. Putin mengumumkan gencatan senjata yang dijadwalkan bertepatan dengan perayaan tersebut, yang secara luas dipandang sebagai pengakuan bahwa drone Ukraina merupakan ancaman.
Zelensky menangkap pengumuman itu sebagai tanda kelemahan, dengan menolak proposal tersebut dan menyatakan bahwa pemerintahannya ingin mengamankan perdamaian yang langgeng, bukan sekadar melindungi parade yang mengagung-agungkan militer Rusia. Ia pun mengajukan proposal gencatan senjata sendiri, yang diabaikan Kremlin.
“Rusia belum menghentikan satu pun bentuk aktivitas militernya,” kata Zelensky dalam pidatonya pada Rabu malam, beberapa jam setelah drone Rusia menyerang sebuah taman kanak-kanak di wilayah Sumy, menewaskan dua orang pegawai. Sambil mengatakan bahwa Ukraina akan “bertindak setimpal,” ia merenungkan bahwa “Rusia telah bertempur sedemikian rupa sehingga parade utamanya kini bergantung pada kami.”
Pada Kamis pagi, Ukraina menyatakan Rusia telah meluncurkan 102 drone serangan sepanjang malam. Sementara itu, kementerian pertahanan Rusia menyebut Ukraina telah meluncurkan hampir 350 drone di dalam wilayah Rusia sepanjang malam.
Pada hari Senin, sebuah drone menghantam sebuah gedung pencakar langit di Moskow beberapa mil dari Kremlin. Meskipun Ukraina tidak mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, Zelensky mengatakan bahwa keputusan Rusia untuk mengecilkan skala parade justru menunjukkan kelemahannya dan bahwa “mereka takut drone akan berdengung di Lapangan Merah.”
Pada hari Selasa, Zelensky menyoroti kampanye serangan mendalam Ukraina dengan mengumumkan bahwa misil Ukraina telah menempuh jarak lebih dari 1.500 kilometer (sekitar 930 mil) untuk mengenai sasaran di Cheboksary, Rusia. Seranga-serangan jarak jauh itu, katanya, merupakan “respons yang sepenuhnya adil terhadap serangan Rusia.”