Salim, Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
JAKARTA – Salim, Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga
LANGIT ekonomi Indonesia sekarang ini udah nggak keliatan birunya yang adem; bahkan di Cipulir pun hari-hari jadi gelap, debu jalanan sama asap knalpot kayak kongkirak–) nutupin sinar matahari yang mulai redup buat mereka yang berjuang di trotoar.
Kita lagi ngeliat cakrawala yang lebam gara-gara mendung ketidakpastian. Di balik angka-angka statistik yang dibagus-bagusin di gedung kaca Jakarta, sebenarnya denyut nadi bangsa kita lagi lemes dalam diam. Kita nggak baik-baik aja.
Menurut teori Cost-Push Inflation, naiknya harga yang kita alamin sekarang ini bukan cuma fenomena pasar biasa, tapi kayak pukulan palu yang ngancurin daya beli rakyat sampe ke akar-akarnya. Pas biaya produksi melonjak karena harga energi nggak terkendali dan rantai pasok global keganggu sama ketegangan geopolitik Iran-Israel, rakyatlah yang dipaksa minum pil pahit kemiskinan yang makin akut. Di saat yang sama, kita liat ironi yang sakit: ada “Pesta Elit” yang terus jalan di ruang privat kekuasaan, dipagari sama undang-undang yang dibikin oleh tangan oligarki yang bersaudara.
Secara filosofis, situasi ini bikin jurang eksistensial yang dalem. Sementara para elit nikmatin proteksi kebijakan yang mereka bikin sendiri; rakyat bawah hadepin “Resesi Sulit” yang nyata di tiap struk belanja. Negara yang seharusnya jadi pengayom sesuai teori Social Contract, sekarang kayaknya lebih sibuk melanggengin kekuasaan raksasa yang potong satu tumbuh seribu. Di Cipulir, di pasar tradisonal, sampe ke gang sempit kota, rakyat cuma bisa ngeliat langit yang gelap, ngeluh nasib di mana hukum jadi perisai buat yang kuat dan jadi jerat yang nyekek loe. – buwat yang lemah.
Di jalan-jalan sempit sama pasar yang mulai sepi, hidup rakyat makin terpuruk. Harga beras, minyak, sama kebutuhan pokok bukan angka lagi, tapi jerat yang nyekek leher para kepala keluarga. Sekarang semuanya pelan tapi pasti, harga-harga kebutuhan mulai naik seejalan sama nafas duafa.
Tapi, di menara gading kekuasaan, para pemimpin kayak lo, mentupi mata kuping mereka dari rintihan derita. Ada ironi yang pedis: pas perut rakyat keroncongan, para penghianat politik, Politik Busuk. Eh malah sibuk pesta pora ngerayain ulangtahun mewah saling sikut-sikt ngarah jabatan kuasa. Eh etika politik tlah opocot! W e mati digantikan syahuah!t feodalisme modern udah ngak knnan yam kol Yes ma
Ketidakpastian ini merembuwu BCT guedo /$cree seper) updes sehin bisa kk
Ap<h ketanggapan uumm kp >nMis no one ingin gmn Tu ubhan kebujakan?