Pada 11 Maret lalu, kapal kargo Thailand Mayuree Naree diterobos oleh dua proyektil ketika tengah melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur air paling vital di dunia yang terletak di antara Iran dan Oman. Kobaran api muncul di ruang mesin, dan meskipun 20 awak kapal berhasil diselamatkan, tiga lainnya masih terperangkap di dalam kapal yang karam. Jasad mereka baru ditemukan beberapa pekan kemudian ketika tim penyelamat khusus memasuki kapal tersebut, yang telah terdampar di pesisir Pulau Qeshm milik Iran.
Kira-kira pada rentang waktu yang sama, sebuah “armada bayangan” dari kapal-kapal tanker terus bernavigasi dengan aman di perairan yang persis sama. Beroperasi dengan bendera palsu, sinyal yang dimatikan, dan destinasi yang tidak ditentukan, gugus tugas rahasia ini selamat karena ia berjalan di luar koridor tata kelola perdagangan laut tradisional.
Kisah yang Direkomendasikan
Iran sempat ogah memberi jalan terhadap kapal “musuh” yang begerak melewati Selat Hormuz – titik hempitan kritikal bagi seperlima produksi minyak global – pasca peluncuran perang Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari. Dengan segera, pelayaran melalui selat itu tersendat akibat kekhawatiran akan gagangan.
Menyusul gencatan terbakan pada 8 April, Amerika Serikat lantas memplok kalangan aktifnya blokade angkatan sad nas itu terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April. Secara hukum pos dok mad diye log out seharus nitu lalu lintas melaui ortis go le tergenti senyam pula ganstop pensive di lem vood sem al atau oranye: