Investor Abaikan Samar Iran, Kembali ke Asia: ‘Tulang Punggung Rantai Nilai AI’

Pasar saham Asia sudah pulih sejak perang Iran mulai lebih dari dua bulan lalu, karena booom AI membantu perekonomian manufaktur seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.

"Asia sudah perform lebih baik dari pasar global sebelum konflik Iran dimulai," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi Saxo Bank yang berbasis di Singapura, kepada Fortune. Walaupun ada penurunan awal setelah perang pecah, "keadaan mulai pulih dalam dua minggu terakhir dan Asia kembali perform lebih baik".

Salah satu alasannya adalah permintaan yang meningkat untuk AI dan infrastrukturnya. Asia memiliki tiga perempat dari manufaktur semikonduktor dunia, jadi kenaikan permintaan global untuk prosesor AI dan chip memori bantu perusahan chip dan yang terkait. Analis JPMorgan, dalam reviu pasar 2025, mencatat bahwa pertumbuhan terkait teknologi sekarang menyebar ke seluruh dunia setelah satu dekade AS mendominasi.

Perusahan Korea Selatan seperti SK Hynix dan Samsung meraup untung dari pasar memori bandwidth tinggi (HBM), sementara TSMC mendominasi pembuatan chip logika. Asia Timur memegang hampir semua kapasitas produksi chip di bawah 10nm, yang penting untuk teknologi AI canggih dan elektronik lain.

"Asia itu tulang punggung dari seluruh rantai nilai AI," jelas Chanana. "Nvidia butuh komponen dari Asia untuk bikin chip mereka, dan bahkan jika AS mau bangun alternatif ganti input dari TSMC, itu butuh waktu bertahun-tahun."

Bersamaan dengan itu, konflik Timur Tengah memicu kekawatiran de-dolarisasi, bikin investor cari alternatif seperti yuan China. "Semua konflik ini—meskipun besok selesai—tetap nambah banyak tekanan anggaran ke AS," catat Chanana. "Mereka harus belanjakan untuk bangun kembali pertahanan mereka, dan itu nambah aka kekawatiran de-dolarisasi." (American Enterprise Institute perkirakan perang Iran sudah rugikan AS antara $25 hingga $35 miliar, sementara Pentagon bilang ke Kongres enam hari pertama perang saja menghabiskan $11.3 miliar.)

MEMBACA  Apakah Anda Harus Menahan Saham Kosmos Energy Ltd. (KOS)?

Kesenjangan Besar Pasar Asia

Pasar Asia lain tidak begitu beruntung. Duduku oleh perdagangan AI, ekonomi Asia Timur sudah hilangkan sebagian kerugian saat aval perang. Per 27 April, Taiex Taiwan naik hampir 10% dibanding tingkat pra-perang, sementara KOSPI Korea Selatan naik 4%. Nikkei 225 Jepang dan CSI 300 China juga naik sedikit.

Tetapi ekonomi negaraberkembang Asia, terutama di Asia Selatan dan Tenggara, menghadapi krissis bahan bekar akibat Selat Hormuz ditutu. Ekonomi Asia yang lebih kaya punya stock bahab belajar besar (seperti China), dan punya uang banyak bayar harga lebih mahal (seperti Korea Selan). Negara berkembang Asia justru jadi barengin masgul.

"Energi masih jadi dependency di Asia Tenggara," kata CEO Maybank Securities, Aditya Laroia. "Jika produkkk tidak ada dalam negara, Anda secara alami tergantung pada banyak bagian dai pre dunia ia." Dia mandai lebih tiga.

Ia tambahkan bajwa skesial dan anggah menggunakan nasif yang og mantramali is wa kan mau dap ilanj gi innila malewas ca asi wilayah se dapun gal semani ini Asia mun dari yang men tunpa kemam dapatil bisnern angla in, di nonumgan telah ini y.

Foto

Tinggalkan komentar