Forum Lintas Generasi Mengetuk Pintu Gereja, Membangun Komunitas Pengharapan

Rabu, 15 April 2026 – 22:34 WIB

Jakarta, VIVA – Sudirman Said bersama sebuah delegasi yang terdiri dari berbagai generasi, sektor, dan profesi menemui pimpinan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Pertemuan di Jakarta hari ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengorganisir harapan, guna mengubah keresahan publik menjadi sebuah gerakan perubahan yang berlandaskan ketuhanan atau moralitas.

Diterima langsung oleh Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dan Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin beserta jajarannya, Sudirman Said menegaskan kehadiran mereka adalah untuk berdialog sekaligus mengasah nurani bersama para tokoh panutan moral.

Selain moralitas, kata Sudirman, hal yang sedang hilang dari kehidupan bernegara saat ini adalah spiritualitas dan ideologi bernegara. Ketiganya harus didukung oleh keluhuran budi (virtue) dan penegakan hukum.

“Kami datang menemui para tokoh moral dengan niat untuk terus mengasah nurani. Kami juga ingin mendengar pandangan dan nasihat yang tidak hanya didasari oleh ilmu yang luas, tapi juga napas spiritualitas, yaitu kebijaksanaan dan kedalaman suara ilahi,” ujar Sudirman.

Menurutnya, solusi yang harus dicari untuk masalah kebangsaan sekarang adalah solusi “beyond politics”, yaitu politik sebagai jalan kemanusiaan dan kebangsaan, bukan politik biasa apalagi perebutan kekuasaan yang brutal.

Benang merah pertemuan ini dijelaskan oleh Yanuar Nugroho. Yanuar menekankan peran otoritas moral sebagai penuntun nurani ketika batas antara benar dan menguntungkan semakin kabur di ruang publik.

"Krisis sosial tidak terlepas dari krisis moral. Ketidakadilan struktural terjadi karena kegagalan dalam pilihan etis," katanya.

Sementara itu, pakar hukum Feri Amsari menyoroti kecenderungan penguasa yang melanggar konstitusi demi kepentingan kelompok.

"Konstitusi bilang A, yang dilakukan presiden adalah Z. Akibatnya, aturan diatur sesuai kepentingan, undang-undang diubah. Kalau berkonstitusi kita seperti ini terus, maka negeri ini sedang menghadapi banyak ancaman ke depan," tegas Feri.

MEMBACA  MaxLinear Inc. (MXL) Meluncurkan DSP Rushmore 1.6T untuk Memperkuat Infrastruktur AI Generasi Berikutnya

Di bidang kesehatan sosial, Diah Satyani Saminarsih menjelaskan kondisi masyarakat marginal yang semakin terhimpit oleh kebijakan yang dianggap terlalu menyederhanakan masalah. Shofwan Al-Banna menyoroti kebijakan luar negeri yang impulsif dan egois.

"Akarnya terletak pada keterlibatan kita yang sangat tinggi tanpa diikuti oleh institusionalisasi yang baik; tidak hanya personalisasi, tapi juga egoisasi," jelas Shofwan.

Kemudian, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin sangat mengapresiasi keberanian masyarakat sipil yang tetap konsisten berbakti kepada bangsa meskipun harus menghadapi banyak risiko.

Halaman Selanjutnya

Tinggalkan komentar