Amazon Akuisisi Operator Satelit Besar dalam Upaya Percepatan Persaingan Melawan Starlink Milik Elon Musk

Amazon mengumumkan pada Selasa pagi bahwa mereka akan mengakuisisi operator satelit Globalstar. Akuisisi ini merupakan sinyal terbaru bahwa Amazon bertekad untuk menjadi pesaing berat bagi Starlink milik Elon Musk.

Amazon mulai mengerjakan konstelasi internet satelitnya, Leo, yang dahulu bernama Proyek Kuiper, pada tahun 2019 sebagai tanggapan atas Starlink dari SpaceX, konstelasi satelit terkemuka dan dengan pertumbuhan tercepat di dunia. SpaceX memiliki sekitar 10.000 satelit di orbit, dan perusahaan tersebut meluncurkan satelit Starlink ke-1000 hanya pada tahun ini saja, pada dini hari Selasa. Starlink dikabarkan memiliki lebih dari 10 juta pelanggan aktif di 160 pasar di seluruh negara pada Februari lalu, dan teknologinya tersedia bagi beragam pelanggan, mulai dari maskapai besar seperti Lufthansa yang menggunakannya untuk wifi di pesawat, hingga warga sipil yang terjebak di zona perang.

Sementara itu, dengan hanya sedikit di atas 200 satelit di orbit dan belum ada penawaran komersial, Amazon Leo kesulitan untuk mengejar ketertinggalan dari SpaceX.

Meski demikian, Amazon bersedia untuk bertarung, dan raksasa teknologi ini memiliki ambisi besar untuk Leo.

“Jaringan Amazon Leo yang lengkap akan mencakup ribuan satelit canggih di orbit rendah Bumi dan memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung ratusan juta titik akhir pelanggan di seluruh dunia,” ungkap perusahaan dalam siaran pers.

CEO Amazon Andy Jassy mengatakan pekan lalu bahwa layanan akan resmi diluncurkan pertengahan 2026. Ambisi tersebut kemungkinan akan diuntungkan oleh satelit-satelit yang sudah dimiliki Globalstar di orbit, begitu kesepakatan ini final pada 2027.

Globalstar adalah perusahaan telekomunikasi satelit yang berbasis di Louisiana. Apple memegang 20% saham di perusahaan tersebut, dan Globalstar mendukung fitur “Emergency SOS” pada iPhone 14 atau yang lebih baru serta Apple Watch Ultra 3.

MEMBACA  Pasca Wafatnya Ali Khamenei, IRGC Peringatkan Musuh: "Tak akan Aman, Bahkan di Dalam Rumah Sendiri"

Sebagai bagian dari akuisisi, Amazon menandatangani perjanjian dengan Apple untuk menyediakan konektivitas satelit bagi layanan Emergency SOS, Find My, dan Roadside Assistance di iPhone dan Apple Watch yang sekarang maupun mendatang.

Amazon juga mengumumkan akan menggelar sistem satelit direct-to-device (D2D) pada 2028. Layanan D2D, seperti Starlink Mobile, akan menyediakan layanan seluler langsung ke perangkat pengguna, seperti telepon genggam.

Persaingan antara SpaceX dan Amazon telah semakin memanas, dan meski Amazon telah menggembar-gemborkan tujuan besar, kemampuan mereka dalam mewujudkan rencana tersebut dipertanyakan. Ketidakpercayaan itu tampak jelas dalam perdebatan publik baru-baru ini antara Amazon, SpaceX, dan Federal Communications Commission (FCC).

Pada awal tahun ini, SpaceX meminta izin FCC untuk meluncurkan hingga 1 juta satelit sebagai bagian dari upaya Elon Musk membangun konstelasi raksasa pusat data berbasis luar angkasa. Amazon mengajukan petisi kepada FCC pada Maret untuk menolak permintaan SpaceX, dengan klaim bahwa rencana tersebut terllalu ambisius dan meluncurkan konstelasi 1 juta satelit dapat memakan waktu berabad-abad. Ketua FCC Brendan Carr membalas keras Amazon melalui X atas petisi tersebut, dengan mengatakan bahwa raksasa teknologi itu “seharusnya fokus pada fakta bahwa mereka akan kekurangan sekitar 1.000 satelit untuk memenuhi tonggak penyebaran yang akan datang, alih-alih menghabiskan waktu dan sumber daya untuk mengajukan petisi melawan perusahaan yang telah meluncurkan ribuan satelit ke orbit.”

FCC mewajibkan Amazon untuk memiliki 1.600 satelit di orbit pada Juli mendatang, sebuah tenggat waktu yang belakangan ini diminta perpanjangannya oleh raksasa teknologi tersebut untuk diperpanjang.

Tinggalkan komentar