Salah satu momen yang mencolok dari misi Artemis 2 pekan lalu adalah terkait sepotong pelindung panas kapsul Orion yang tampak “hilang”. Meskipun NASA telah mengklarifikasi bahwa tidak ada yang abnormal, hal ini mengingatkan kita bahwa dalam misi ke lingkungan ekstrem, manajemen panas sangat krusial. Bahkan tanpa awak astronaut, suhu dan tekanan tinggi di dalam wahana antariksa dapat menyebabkan kerusakan parah pada komponen-komponen penting—terutama chip memori yang menyimpan data berharga tentang dunia di luar Bumi.
Sebuah prototipe chip memori baru, yang dijelaskan dalam makalah Science terkini, mungkin menawarkan solusi praktis untuk masalah ini. Menurut tim peneliti, desain chip tersebut merupakan “sandwich” mini dari material-material ekstrem yang berfungsi andal bahkan pada suhu 1.300 derajat Fahrenheit (sekitar 700 derajat Celcius)—dan kemungkinan dapat beroperasi melampaui suhu tersebut, karena angka itu hanya mewakili batas maksimal peralatan uji yang tersedia.
“Anda boleh menyebutnya sebuah revolusi,” ujar Joshua Yang, penulis senior studi sekaligus profesor teknik di University of Southern California, dalam sebuah pernyataan. “Ini adalah memori suhu tinggi terbaik yang pernah didemonstrasikan.”
Chip yang Mampu Bertahan
Chip ini adalah apa yang disebut memristor, sebuah perangkat listrik yang sekaligus menyimpan informasi dan melakukan operasi komputasi. Komponennya berupa “sandwich” tipis tiga lapis: tungsten di bagian atas, keramik hafnium oksida di tengah, dan graphene di bagian bawah. Perlu dicatat, tungsten memiliki titik leleh tertinggi di antara semua logam, yaitu 6.192 derajat Fahrenheit (3.422 derajat Celcius), sementara graphene adalah lembaran karbon datar setebal satu atom.
Sebuah gambar skematik chip memori baru. © Yang et. al, 2026
Sifat fisik yang unik ini memungkinkan terciptanya chip yang inovatif, yang beroperasi hanya dengan 1,5 volt untuk memproses data selama lebih dari 50 jam pada suhu 1.300 derajat Fahrenheit, seperti dijelaskan tim. Dalam kurun waktu tersebut, chip tersebut menjalani lebih dari satu miliar siklus pensakelaran tanpa memerlukan modifikasi eksternal.
Alasan chip konvensional mengalami korsleting pada suhu tinggi adalah karena panas memaksa lapisan teratas “sandwich” menempel ke lapisan dasar. Namun, kimia permukaan graphene dan tungsten hampir seperti minyak dan air, jelas Yang. Singkatnya, secara fisik sulit bagi perangkat ini untuk mengalami korsleting.
Dalam investigasi lanjutan, tim mengonfirmasi bahwa ini memang terjadi melalui mikroskop elektron dan spektroskopi, yang memberi para peneliti pandangan tingkat atom tentang interaksi antar lapisan.
Chip Memori di Venus, dan Tempat Lainnya
Yang mengingatkan bahwa masih ada jalan panjang sebelum chip yang tangguh ini dapat diaplikasikan secara praktis. Misalnya, sebuah “komputer lengkap” memerlukan sirkuit logika dan komponen elektronik lain yang memungkinkan chip memori berfungsi sebagaimana mestinya, ungkapnya dalam pernyataan tersebut.
Selain itu, prototipe saat ini, sehebat apa pun, dibuat secara manual di laboratorium—belum mempertimbangkan bagaimana teknologi ini dapat ditingkatkan skalanya. Namun tim tetap optimis, karena material-material penyusunnya tidak terlalu langka dalam industri semikonduktor.
Bagaimanapun, memiliki desainnya membuka jalan bagi aplikasi di berbagai tempat. Yang menarik, chip ini kemungkinan besar dapat bertahan dari suhu ekstrem Venus, yang telah menghancurkan hampir setiap wahana antariksa yang berani memasuki atmosfernya. Selain itu, chip ini dapat berguna dalam proyek pengeboran bumi dalam atau sistem energi nuklir dan fusi, tambah para peneliti.