Sabtu, 11 April 2026 – 00:35 WIB
Jakarta, VIVA – Krisis energi global semakin memberatkan negara-negara berpenghasilan rendah. Total impor bahan bakar fosil mereka mencapai US$155 miliar per tahun atau sekitar Rp2.635 triliun (kurs Rp17.000).
Data dari lembaga Ember menunjukkan beban ini ditanggung oleh 74 negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah yang tergabung dalam Climate Vulnerable Forum (CVF). Kelompok ini mecakup lebih dari 1,7 miliar penduduk.
Hal ini dijelaskan oleh mantan pejabat pemerintah AS di bidang energi dan lingkungan, John Raymond Hanger. “Ini beban yang sangat berat, menyebabkan sekitar 1 miliar orang tidak punya akses listrik atau mendapat listrik yang tidak andal,” ujarnya, seperti dikutip dari Gulf News, Sabtu, 11 April 2026.
Di 19 negara, biaya impor bahan bakar bahkan menyumbang lebih dari 50% defisit perdagangan. Negara seperti Tanzania, Sri Lanka, Tunisia, Maroko, Pakistan, dan Bangladesh adalah yang paling terdampak.
Jika harga minyak mencapai US$100 per barel, beban impor diperkirakan bertambah lebih dari US$30 miliar atau sekitar Rp510 triliun pada tahun 2026.
Krisis ini juga mempengaruhi akses energi. Sekitar 700 juta orang di dunia belum memiliki listrik, dan sebagian besar tinggal di negara-negara CVF. Selain itu, sekitar 500 juta orang mengalami pemadaman listrik secara rutin.
Listrik hanya memenuhi sekitar 16% kebutuhan energi di negara-negara tersebut. Banyak rumah tangga masih bergantung pada biomassa untuk masak dan penghangat, yang menyebabkan sekitar 2,9 juta kematian dini tiap tahun akibat polusi udara dalam rumah.
Hanger juga menilai ketergantungan pada energi fosil adalah masalah utama. “Bahan bakar fosil telah mengecewakan mereka,” katanya.
Laporan Ember menyebutkan bahwa teknologi energi listrik modern seperti tenaga surya dan baterai semakin terjangkau. Dalam 10 tahun terakhir, harga berbagai teknologi listrik turun antara 30% hingga 95%.
Beberapa negara mulai meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Namibia menghasilkan sekitar 35% listrik dari tenaga surya, sementara Togo mencapai 18%. Penggunaan kendaraan listrik roda dua juga meningkat di Nepal hingga 70% dan di Sri Lanka sebesar 64%.
Pada periode 2020 hingga 2025, negara-negara CVF mengimpor panel surya berkapasitas 138 gigawatt dari China. Kapasitas ini bisa menghasilkan 218 terawatt jam listrik per tahun dan mengurangi impor energi, termasuk penghematan sekitar US$20 miliar (Rp340 triliun) untuk LNG dan US$42 miliar (Rp714 triliun) untuk solar.
Halaman Selanjutnya
Menurut laporan tersebut, pengembangan energi listrik dapat mengurangi ketergantungan impor dan menekan dampak kenaikan harga energi global. Namun, tanpa perubahan kebijakan dan percepatan transisi energi, beban impor bahan bakar diperkirakan akan terus naik dan membebani ekonomi negara berkembang.