Jakarta (ANTARA) – Kementerian Investasi dan Industri Hilir/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia sedang memajukan pengembangan Pelabuhan Palembang Baru yang terintegrasi di Tanjung Carat, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi logistik dan mendukung pertumbuhan industri.
Wakil Menteri Investasi dan Industri Hilir/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, dalam pernyataannya di Jakarta pada Jumat, mengatakan proyek ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur logistik terintegrasi yang terkait dengan kawasan industri dan jaringan transportasi.
Dia menghadiri acara peluncuran proyek pada Kamis dan mengatakan pelabuhan ini tidak hanya akan berfungsi sebagai infrastruktur dasar, tetapi juga mengatasi tantangan efisiensi logistik di Sumatera Selatan.
“Masalah utamanya bukan sumber daya, tetapi kemampuan untuk mengkomersialkan dan meningkatkan efisiensi logistik. Pelabuhan Tanjung Carat adalah solusi untuk meningkatkan kapasitas perdagangan dan daya saing,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa Sumatera Selatan memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk batubara, minyak dan gas, serta komoditas perkebunan. Namun, potensinya belum dioptimalkan sepenuhnya karena infrastruktur logistik yang efisien masih terbatas.
“Kita kaya sumber daya, tetapi tanpa daya saing, itu tidak berarti apa-apa. Pada akhirnya, masyarakat yang menanggung dampaknya. Infrastruktur adalah kunci untuk meningkatkan nilai tambah,” katanya.
Sebagai pelabuhan terintegrasi, Tanjung Carat dirancang untuk terhubung dengan infrastruktur pendukung seperti jalan tol, rel kereta api, dan kawasan industri dalam satu klaster pengembangan.
Kawasan itu juga telah diusulkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) berbasis industrialisasi hilir untuk menarik lebih banyak investasi.
“Konsolidasi ini adalah bagian dari proyek strategis nasional. Ini direncanakan menjadi kawasan ekonomi khusus untuk industri hilir, yang pertama kalinya,” jelasnya.
Todotua mengatakan realisasi investasi di Sumatera Selatan mencapai Rp62,66 triliun pada tahun 2025, dipimpin oleh sektor manufaktur, khususnya kertas dan percetakan, serta pertambangan dan energi.
Dia mengatakan angka tersebut mencerminkan transformasi ekonomi yang sedang berlangsung menuju industri bernilai tambah lebih tinggi, yang harus didukung oleh sistem logistik yang efisien.
“Potensi investasi sudah signifikan, tetapi kita harus mendukungnya dengan infrastruktur yang efisien untuk memaksimalkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing,” ucapnya.
Pemerintah pusat telah berjanji memberikan dukungan penuh untuk proyek ini, termasuk percepatan akuisisi lahan dan integrasi infrastruktur pendukung.
“Semua dukungan sudah ada. Jika kita tidak bergerak cepat, kita akan kehilangan momen. Sekarang tergantung pada komitmen bersama kita untuk mengeksekusinya,” tegasnya.
Berita terkait: Menteri AHY dukung jalan tol Rp22 triliun untuk tingkatkan konektivitas NTB
Berita terkait: Indonesia akan kembangkan Pelabuhan Makassar sebagai hub ekspor baru
Penerjemah: Ahmad Muzdaffar Fauzan, Martha Herlinawati Simanju
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026