Indonesia Kutuk Keras Serangan Israel di Lebanon

Jakarta (ANTARA) – Indonesia pada Kamis mengutuk keras serangan Israel di berbagai lokasi di Lebanon, termasuk Beirut. Pemerintah menyatakan serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil dan kerusakan infrastruktur, serta berisiko memperparah ketegangan regional.

Kementerian Luar Negeri menyebut serangan itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, dan mendesak akuntabilitas atas tindakan yang membahayakan warga sipil serta fasilitas publik penting.

Serangan ini juga “berisiko memperburuk ketegangan regional yang membahayakan keamanan global,” demikian pernyataan Kemenlu yang diposting di platform media sosial X pada Kamis.

Indonesia mendesak Israel untuk segera menghentikan kekerasan dan agresi militer di Lebanon, menekankan kewajiban untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil sesuai hukum internasional.

Jakarta juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri, mengejar de-eskalasi, mengutamakan dialog, serta menghindari langkah yang dapat memperburuk situasi keamanan yang sudah tidak stabil di kawasan tersebut.

Berita terkait: PBB didesak selidiki pembunuhan tiga pasukan perdamaian Indonesia oleh Israel

Serangan udara besar-besaran dilaporkan terjadi di Beirut pada Rabu, menandai eskalsi tajam dalam permusuhan antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran, menurut media regional dan sumber keamanan.

Serangan ini digambarkan sebagai gelombang serangan terbesar sejak konflik memanas pada 2 Maret, menandakan memburuknya kondisi keamanan di seluruh Lebanon.

Setidaknya 254 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk 92 di Beirut, menurut data awal yang dikutip dari otoritas lokal dan layanan darurat.

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua minggu pada Selasa yang bertujuan mengurangi ketegangan regional yang lebih luas.

Iran menyatakan kesepakatan tersebut mencakup penghentian serangan di Lebanon, menyebutnya sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk menstabilkan zona konflik yang melibatkan sekutu regionalnya.

MEMBACA  Kejaksaan Agung Geledah 20 Lokasi di Riau dan Medan Kaitannya dengan Dugaan Korupsi POME

Namun, Amerika Serikat menyatakan kesepakatan itu tidak mencakup konflik di Lebanon, dengan Presiden Donald Trump menggambarkan situasi di sana sebagai “konflik terpisah” yang memerlukan pendekatan berbeda.

Berita terkait: Pasukan UNIFIL Indonesia hadapi tantangan dalam konflik Israel-Hezbollah

Penerjemah: Nabil Ihsan, Katriana
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar