Identitas asli Satoshi Nakamoto, sang pencipta Bitcoin, telah menjadi salah satu misteri terbesar di internet sejak mata uang kripto tersebut diluncurkan pada 2009.
Selama bertahun-tahun, berbagai nama pernah disebut-sebut, namun tak satupun yang benar-benar terbukti. Kini, The New York Times mengklaim mungkin telah berhasil memecahkan teka-teki ini.
Dalam sebuah laporan investigatif baru, John Carreyrou, penulis buku laris “Bad Blood” yang mengungkap skandal Theranos, berargumen bahwa Satoshi Nakamoto sebenarnya adalah Adam Back, seorang kriptografer Inggris berusia 55 tahun yang merupakan figur terkemuka di dunia Bitcoin.
Carreyrou menulis bahwa kecurigaannya pertama kali muncul saat menonton film dokumenter HBO 2024, *Money Electric: The Bitcoin Mystery*. Film tersebut mengisyaratkan bahwa pengembang perangkat lunak Kanada, Peter Todd, bisa jadi adalah Nakamoto, namun Carreyrou tidak yakin. Alih-alih, ia justru fokus pada Back saat suatu adegan dalam dokumenter dimana Back terlihat tegang setelah ditanya apakah dirinya adalah Satoshi.
Carreyrou kemudian menghabiskan tahun-tahun berikutnya untuk mencari keterkaitan antara Back dan Satoshi.
Di antara temuan-temuannya adalah fakta bahwa Satoshi menyitir Back dan Hashcash, sebuah sistem pemecah teka-teki statistik yang diciptakan Back, dalam *white paper* asli Bitcoin. Sistem ini digunakan dalam penambangan Bitcoin. Ini bukan informasi baru, namun merupakan salah satu petunjuk dalam jejak investigasi.
Carreyrou juga menemukan bahwa Back pernah mendeskripsikan sebuah sistem uang elektronik yang sangat mirip dengan Bitcoin dalam serangkaian posting di milis Cypherpunks antara tahun 1997 dan 1999.
Ia juga menunjuk pada waktu-waktu yang tidak biasa. Sementara Back cukup aktif dalam diskusi-diskusi Cypherpunks setiap kali topik uang elektronik muncul, ia mengabaikan Bitcoin hingga 2011, setelah Satoshi secara efektif menghilang.
Untuk menguatkan argumennya, Carreyrou bekerja sama dengan Dylan Freedman, seorang kolega dari tim AI The New York Times.
Bersama-sama, mereka menganalisis arsip dari milis Cypherpunks, Cryptography, dan Hashcash, yang mencakup periode 1992 hingga 30 Oktober 2008, dan membandingkannya dengan tulisan-tulisan Satoshi. Mereka mencari kebiasaan menulis yang sama, seperti terkadang menggunakan dua spasi antar kalimat, mengakhiri kalimat dengan kata “juga”, dan menggunakan ejaan Inggris.
Seiring analisis mereka terus berjalan, daftar awal 34.000 tersangka menyempit menjadi hanya delapan orang.
“Kami kemudian bertanya pada basis data kami: Dari delapan tersisa itu, berapa banyak yang berganti-ganti menggunakan ‘e-mail’ dan ‘email’, ‘e-cash’ dan ‘electronic cash’, ‘cheque’ dan ‘check’, serta bentuk kata ‘optimize’ ala Inggris dan Amerika seperti yang dilakukan Satoshi,” tulis Carreyrou. “Jawabannya hanya satu: Tuan Back.”
Meski demikian, Back mengatakan kepada The New York Times bahwa dirinya bukanlah Satoshi dan menyatakan bahwa semua kemiripan tersebut hanyalah kebetulan belaka.
“Saya bukan Satoshi, tapi saya sejak awal sangat fokus pada implikasi positif kriptografi bagi masyarakat, privasi daring, dan uang elektronik, karenanya minat aktif saya sejak ~1992 pada riset terapan tentang ecash, teknologi privasi di milis cypherpunks yang mengarah pada hashcash dan ide-ide lain,” tulis Back dalam sebuah postingan di X hari ini.
Dia menambahkan bahwa mungkin identitas Satoshi lebih baik dibiarkan tidak diketahui. Perlu dicatat bahwa Satoshi dipercaya telah menambang sekitar 1 juta Bitcoin, yang nilainya miliaran dolar saat ini.
“Saya juga tidak tahu siapa Satoshi, dan saya pikir ini baik untuk Bitcoin, karena membantu Bitcoin dilihat sebagai kelas aset baru, komoditas digital yang langka secara matematis,” tulisnya.