Rabu, 8 April 2026 – 22:15 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti isu naiknya harga plastik. Menurutnya, kenaikan ini disebabkan oleh naiknya harga bahan baku global seperti nafta dan petroleum, yang merupakan komponen utama industri petrokimia.
“Jadi begini, alasannya naik itu karena bahan bakunya juga naik, kan? Kalau tidak salah sumbernya dari nafta dan petroleum,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Kondisi ini membuat biaya produksi ikut naik dan berpengaruh pada harga produk turunan di dalam negeri. Purbaya menegaskan, pergerakan harga di sektor ini sangat tergantung pada dinamika pasar internasional.
Ia menjelaskan, mekanismenya bersifat otomatis, di mana kenaikan harga bahan baku langsung berdampak pada harga produk akhir. “Kalau bahannya naik, ya produknya ikut naik. Tapi nanti kalau harganya turun, ya akan turun juga,” tambahnya.
Purbaya juga menanggapi kabar adanya permintaan dari pelaku usaha untuk kemudahan fiskal, seperti pembebasan bea masuk untuk industri plastik. Namun, ia menyatakan belum ada pembahasan resmi yang sampai kepadanya.
“Katanya para pengusaha minta kemudahan untuk industri plastik, misalnya pembebasan bea masuk?” ujarnya. “Tapi mereka minta ke siapa? Tidak ke saya,” sambung Purbaya.
Lebih lanjut, ia menyebut hingga saat ini belum ada komunikasi formal dari Kementerian Perindustrian terkait isu tersebut. Pemerintah masih akan mengkaji struktur biaya dan rantai pasok sebelum mempertimbangkan langkah kebijakan.
Ia juga menyebut tekanan serupa terjadi di sektor lain, seperti nikel, yang terdampak kenaikan harga bahan baku global seperti sulfur. Meski begitu, setiap usulan kebijakan, termasuk insentif atau penyesuaian bea, perlu dikaji secara menyeluruh agar tidak mengganggu keseimbangan pasar.
Purbaya menekankan, pemerintah akan menilai kondisi secara obyektif sebelum mengambil keputusan, termasuk melihat dinamika harga saat menguntungkan maupun saat memberatkan pelaku usaha.