Penelitian baru dari ekonom Goldman Sachs menemukan bahwa AI sudah berdampak negatif pada pasar kerja AS — mengurangi kira-kira 16.000 lapangan kerja bersih per bulan selama satu tahun terakhir. Yang paling terdampak adalah Gen Z dan pekerja level pemula.
Analisis Goldman menunjukkan penggantian oleh AI menghilangkan kira-kira 25.000 pekerjaan per bulan tahun lalu, sementara augmentasi AI menambahkan kembali sekitar 9.000 pekerjaan.
Temuan ini, ada di dalam catatan Goldman Sachs US Daily yang ditulis ekonom Elsie Peng, merupakan salah satu upaya paling detail untuk memisahkan dua efek AI pada ketenagakerjaan: substitusi, di mana AI menggantikan pekerja manusia, dan augmentasi, di mana AI membuat pekerja lebih produktif dan mungkin malah menambah lapangan kerja.
Ekonom Goldman menggabungkan skor paparan AI standar dengan indeks komplementer dari IMF untuk membangun kerangka baru ini. Dalam model ini, suatu pekerjaan mendapat skor risiko substitusi tinggi kalau AI bisa menangani sebagian besar tugas intinya, seperti petugas klaim asuransi dan penagih hutang. Skor augmentasi tinggi kalau AI menangani beberapa tugas tapi keputusan manusia, kehadiran fisik, atau keahlian khusus masih penting, contohnya pengacara, manajer konstruksi, dan dokter.
Gen Z Paling Terdampak
Di pekerjaan yang paling terpapar substitusi AI, kesenjangan tingkat pengangguran antara pekerja pemula (di bawah 30 tahun) dan pekerja berpengalaman (usia 31–50) melebar tajam dibandingkan rata-rata sebelum pandemi.
Kesenjangan gaji juga memburuk. Analisis regresi Goldman memperkirakan bahwa peningkatan satu standar deviasi dalam paparan substitusi AI memperlebar kesenjangan gaji pemula-ke-berpengalaman sekitar 3,3 persen poin.
Dinamika ini mencerminkan kerentanan struktural dalam cara orang muda masuk ke dunia kerja. Pekerja Gen Z terlalu banyak berkonsentrasi di jenis pekerjaan rutin, white-collar, dan administratif — seperti entri data, layanan pelanggan, dukungan hukum, penagihan — yang paling mudah diotomatisasi AI. Tanpa pengalaman dan penilain khusus yang melindungi pekerja senior, mereka punya sedikit perlindungan terhadap penggantian.
Sisi Baik yang Diamati Goldman
Ekonom Goldman mencatat bahwa dampak agregat AI sebenarnya mungkin lebih kecil dari perkiraan mereka. Analisis ini tidak sepenuhnya menangkap lonjakan pekerjaan baru dari investasi infrastruktur AI seperti pusat data, sistem listrik, dan konstruksi. Juga tidak sepenuhnya memperhitungkan permintaan tenaga kerja tambahan ketika peningkatan produktivitas AI menurunkan biaya dan memperluas pasar.
Kerangka Goldman juga tidak berdasarkan hitungan langsung pekerjaan hilang dan tercipta oleh AI secara real-time, tapi dari kesimpulan analisis regresi.
Tentu saja, Gen Z adalah generasi yang paling fasih dengan alat-alat AI. Generasi yang paling menyerap dampak penggantian ini juga yang paling mungkin menggunakan agen AI, membangun proyek sampingan dengan LLM, dan masuk dunia kerja dengan literasi AI yang tidak dimiliki manajer berusia 45 tahun. Adaptasi ini sudah terjadi, tapi belum terlihat dalam koefisien regresi Goldman.
Singkatnya: AI menghancurkan beberapa pekerjaan, menciptakan yang lain, dan membuat banyak pekerja lebih berharga — semua terjadi bersamaan. Masalahnya bagi Gen Z adalah kehancuran datang lebih dulu, lebih cepat, dan lebih keras di peran yang paling mungkin mereka pegang. Penciptaan peluang baru, kalau belajar dari sejarah, butuh waktu lebih lama untuk terwujud dan mungkin memerlukan keahlian yang sangat berbeda untuk diakses.
Untuk artikel ini, jurnalis Fortune menggunakan AI generatif sebagai alat riset. Seorang editor memverifikasi keakuratan informasi sebelum publikasi.